8.18.2010

cerita enny arrow 3

HANYA SEPULUH menit mereka membutuhkan waktu istirahat. Benny naik ke atas tubuh Aningsih yang sudah siap menanti. Kedua susunya menyembul putih bagaikan salju. Benar-benar menantang. Pinggangnya ramping dan pinggulnya mekar dan indah. Benny menciumi bahu dan payudara Aningsih, sementara bazokanya yang sudah benar-benar tegang menggeser-geser di paha Aningsih. Aningsih menggenggam batang bazoka Benny yang sangat kekar. Sambil membalas ciuman- ciuman Benny yang bertubi-tubi dibimbing dan kemudian ditempatkannya kepala kemaluan Benny yang sudah membengkak tepat di ambang gua vaginanya. Sementara itu, kedua paha Aningsih sudah direntangkannya selebar- lebarnya. “Benn . . . !! Pelan-pelannn, sayanghhh!!” bisik Aningsih gemetar. “ Kepunyaanmu besar sekali!” Benny mengangguk. Dirasakannya kehangatan menyengat pada kepala zakarnya. “Ayoh, Benn! Tekan, sayangghh!! Sssshh . . . pelan- pelllaann !!” Aningsih memejamkan matanya. Benny mendorong pantatnya. Dan kepala zakarnya pun melesak, dan: “Auww . . . !!!” Aningsih menjerit tertahan. “Bennnnnn!! Sssaakkhittsss!” dan tubuh Aningsih mengejang, bergetar menahan rasa perih. Benny mengerti. Dia tidak capital asal tabrak saja. Dinantikannya sampai rasa sakit Aningsih. Benny merasakan lobang vagina Aningsih menjepit keras, mencekik leher zakarnya. Adduuuhhh! Bukan capital nikmatnya! “Ayoh, Ben! Tekan lagi!” bisik Ningsih setelah rasa sakit itu hilang. Benny menekan lagi. Dan srrrt! Dan batang zakar Benny yang luar biasa besarnya itu melesak lagi sampai sepertiga. Dan sebagaimana yang pertama, Aningsih tersentak sambil menjerit: “Addduuhhh! Bennn! Ssssaakkhittss ” “Tahankan, sayang!” bisik Benny sambil tersenyum dan bertulang mengecupi mata Aningsih yang berlinang. “Nanti kau akan merasakan nikmat yang luar biasa!” Benny membiarkan zakarnya membenam sampai sepertiga, kemudian ditariknya perlahan-lahan sampai sebatas leher kemaluannya. Lalu ditekannya kembali pantatnya. Dan batang bazoka yang luar biasa itupun menggelosor masuk. Lagi-lagi Aningsih merasakan kemaluan Benny bagaikan membongkar seluruh lorong vaginanya. Aningsih menggigit bibirnya sendiri, menahan rasa sakit dan linu. Namun absolutist kelamaan, rasa sakit dan linu itu semakin berkurang dan semakin berkurang lagi. Sebagai gantinya, zakar Benny keluar masuk mulai mendatangkan rasa nikmat luar biasa. Keluar- masuk. Keluar masuk! Demikian berulang-ulang. Bless! Slessep! Bless! Slessep! Bagaikan kereta api yang sedang langsir. Tetapi terbatas hanya sampai separuh saja. Pada waktu didorong masuk, vagina Aningsih sampai kempot. Dan pada waktu ditarik, sampai monyong . . . Hmmm! Kepunyaanmu enak sekali, sayang. Sempit sekali. Rasanya hampir lecet kepunyaanku,” kata Benny. “Kepunyaanmu terlalu besar, Ben,” ujar Aningsih sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Hal backbone semakin mendatangkan nikmat bagi Benny. Demikian pula bagi Aningsih. Pinggulnya yang besar dan montok itu melakukan gerakan memutar, seirama dengan keluar-masuknya batang zakar Benntu. “Bagaimana, sayang?! Masih sakit?!” tanya Benny sambil mengecupi belakang telinga Aningsih. Aningsih menggelinjang- gelinjang geli. “Kemaluanmu enak sekali, sayang! Betul-betul lezat.” bisik Aningsih. “Nah, apa kataku tadi. Rasa sakitmu cuma sebentar, kan?!” ujar Benny. “Kemaluanmu juga enak, Mbak. Enak sekali!” “Bennn . . . !!” Ujar Aningsih yang tersenyum bangga, menerima pujian Benny. “Ada apa?!” tanya Beatty. “Apakah kepunyaankn betul-betul enak?!” “Enak sekali, sayang. Kepala zakarku bagaikan dipijit dan disedot-sedot. Pokoknya lezaaatttss . . . !!” Benny meliuk-liuk ke sana- ke mari. Tenutunya diapun sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa sebagai akibat pijitan-pijitan dinding-dinding lorong kemaluan Aningsih yang bagaikan hidup. Sementara itu, cairan lendir semakin membajiri lorong kemaluanku. Semakin licin dan basah. “Nah. manisku! Lorongmu semakin lancar sekarang,” bisik Benny dengan mesranya. “ Bagaimana kalau kubenamkan seluruh batang zakarku?!” “Ayoh, sayang! Aku sudah siap,” kata Aningsih sambil mengangkangkan kedua pahanya lebih lebar. Dan Benny pun mendorong pantatnya sehingga kemaluannya lebih dalam membenam ke dalam lobang vagina Aningsih. Blesss! Wow!, Aningsih bagaikan melayang ke langit ketujuh. Terasa benar bagaimana menggelosornya benda itu. Nikmat sekali. Tetapi Aningsih jadi agak kecewa ketika Benny menghentikan dorongannya. Batang kemaluannya yang kukuh bagaikan tonggak itu belum seluruhnya masuk. Aningsih jadi penasaran dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. “Masukkan semua, Ben! Sanwa! Jangan disisakan laghhiiiii! Masukkan, dorongghh . . . .!!” kaki Aningsih menjepit pinggang Benny. Dan tangannya, berusaha mendorong pantat Benny ke bawah. Benny mengerti, Aningsih sudah histeris. Sudah ingin menikmati seluruh batang kemaluannya tanpa sisa lagi. Tetapi bukannya mendorong, Benny malah mengangkat pantatnya. Dan kemaluannya menggelosor ke luar. Aningsih jadi penasaran. Diangkatnya pantatnya setinggi-tingginya. Bertepatan dengan itu, Benny mengayunkan pantatnya kuat-kuat. Dan . . . blashhh!! Tanpa ampun, seluruh batang kemaluannya yang kokoh, indah . . . dan perkasa itu menghunjam dan membenam sedalam-dalamnya ke liang kemaluan Aningsih. Aningsih menjerit sekuat- kuatnya. Tubuhnya meronta-ronta ke sana-ke mari, bagaikan sapi disembelih. Dan, “Crot! Crrrt! Crrrotttss . . . !!” semua cairan mani yang tersimpan di dalam kandungannya, menyemprot seketika. Banyak sekali. Membanjiri seluruh lobang gua Aningsih. Suatu kenikmatan luar biasa yang sebelumnya belum pernah dirasakan oleh Aningsih. Dan bersamaan dengan jeritan Aningsih, Benny pun mengeram kuat. sambil merangkul tubuh Aningsih kuat-kuat. Aningsih merasakan tubuhnya bagaikan remuk. Hmmmh!” Akh. Mbak! Hmmm! Akkkkhhhuuu keluarrr, sssh! Mbaaakkk . . . sssh, ennnnaakhh!!” Benny meracau sambil meronta-ronta. Matanya membeliak-beliak ke atas, sementara kepalanya terlontar ke sana-ke mari. Dan bersamaan dengan itu, Aningsih merasakan batang zakar Benny berdenyut-denyut keras dan memuntahkan lahar panas. Berkali-kali terasa semprotansemprotan itu. Maka lobang kemaluanku pun semakin membanjir. Setelah beberapa detik lamanya merasakan dirinya terlontar ke angkasa, Benny merasakan dirinya lemas. Dan tergulirlah dari atas tubuh Aningsih. Keduanya merasakan kepuasan amat sangat. Aningsih memijit hidung Benny. “Luar biasa sekali,” ujar Aningsih. “Kaulah satu-satunya lelaki yang berhasil memuaskanku, Ben!Sungguh!” “Aku juga begitu, Mbak. Baru kaulah yang benar-benar memuaskan diriku!” balas Benny. Lalu keduanya berkecupan dengan mesranya. Apa yang dikatakan Aningsih memang benar. Dia sudah berpengalaman dengan lelaki. Namun baru kali inilah mendapatkan kepuasan yang benar-benar aduhai. Tidak hanya sekali saja mereka lakukan kemesraan itu. Namun berkali-kali. Dan berbagai affectation pula. Archetypal nungging, archetypal berdiri. Archetypal diganjal bantal. Semuanya memuaskan! Aningsih merasakan kebahagiaan amat sangat. Demikian pula halnya dengan Benny. “Aku semakin mencintaimu, Mbak!” bisiknya. Aningsih menggeleng-gelengkan kepala. “Kau belum tahu siapa diriku sebenarnya, Ben!” ujarnya Aningsih. “Siapapun dirimu, aku tetap mencintaimu, Mbak!” ujar Benny lagi. “Aku tidak peduli. Cinta tidak memandang umur. Pokoknya aku mencintaimu, Mbak. Dan aku ingin memilikimu!” Aningsih memijit hidung Benny dengan mesra. “Ih, dasar bandel!” ujar Aningsih. “Kalau saja kau tahu siapa diriku, pasti kau akan membenciku!” “”Tidak, Mbak. Sungguh! Dengarlah. Diriku sendiripun sudah pantas untuk menikah. Usiaku sudah dua puluh empat tahun. Aku sudah bekerja. Gajiku cukup untuk hidup kita berdua. Di samping itu, orang tua aku di kampung sudah sangat mengharapkan punya cucu dariku. Nah, apa lagi, Mbak?! Apalagi?!” “Kau ini nggak sabaran sekali, Ben! Kita baru berkenalan, sudah mengajak kawin. Kau harus tahu, perkawinan itu bukan sekedar barang permainann. Harus benar-benar melalui pertimbangan yang masak. Kita harus berpikir, apakah kita sudah benar-benar cocok. Kau belum tahu sifat-sifatku dan akupun belum tahu sifat-sitatmu. Tunggulah sampat tiba saatnya kita sudah benar-benar siap untuk menikah! Benny tidak menjawab. Hanya merenung. “Deagarlah, Ben!” ujar Aningsih sainbil mempermainkan bulu-bulu dada Benny. “Dan pikirkanlah. Aku ini janda. Bercerai dua tahun yang lalu karena tidak ada kecocokan. Untung saja akn belumpunya anak. Nah, aku tidak ingin jika nanti aku harus menjadi janda untuk kedua kalinya. Aku harus berhati-hati!” “Baiklah, Mbak. Aku . . . aku . . . akan memikirkannya! Akn . . . aku akaa bersabar menunggu,” jawab Benay. JAM SATU lewat tengah malam, Benny meninggalkan rumah Aningsih. Sebenarnya berat sekali harus berpisah. Namun Benny ingat, besok dia harus ngantor. Sedangkan dia tidak membawa pakaian ganti. Sampai di rumah kostnya, Taate Dewi sendiri yang membukakan pintu. “Kau dari mana, Ben?! Kok sampai malam sekali pulangnya,” kata Tante Dewi yang heran atas tingkah Beany. Tidak biasanya Benny pulang di malam selarut ini. Paling malam, jam sebelas. Benny termasuk kategori orang yang lebih suka tinggal di rumah daripada kluyuran. “Ini, Tante. Teman ulang tahun!” ujar Benny seenaknya, sambil terus mendorong motornya ke belakang. Tante Dewi menguncikan kembali pintu, kemudian mengikuti langkah-langkah Benny ke kamar. Baru saja Benny melepaskan sepatunya, Dewi telah memeluknya. Benny! Uf!” Tante kangen sekali padamu. Seminggu kita tidak berkencan. Sekarang, Oom sedang ke luar kota. Tadi pagi berangkat!” ujar Dewi sambil mulutnya menghujani bibir Benny bertubi-tubi. “Uf! Saya letih sekali. Tante. Lain kali saja!” ujar Benny sambil berusaba menghindari ciuman-ciuman Dewi. Tetapi Dewi yang sudah naik spanning, tak mau peduli. Dewi mendorong tubuh Benny, sehingga lelaki itu tergelimpang ke alas tempat tidur. Dengan tergesa, Dewi cepat sekali mcmbukai hemd Benny. Sesaat kemudian, hemd itu telah melayang kc lantai. Menyusul celana panjang, dan celana dalamnya. Kemudian dengan tergesa pula, Dewi melepaskan dasternya sendiri. Dewi, perempuan yang walaupun telah berusia di atas tiga puluh tahun itu, ternyata memiliki tubuh yang aduhai sempurna. Seperti gadis yang berusia dua puluh tahun saja. Masih sekal dan menggiurkan. Dan Benny yang bertemperamen panas, sekalipun sudah letih sekali, segera naik nafsu birahinya. “Benny! Tante sudah sangat rindu. Sudah absolutist mennnggu kesempatan seperti ini. Jangan kecewakan Tante, Ben! Bennnnn!!” ujar Tante Dewi merengek-rengek, seraya menggosok-gosokkan buah dadanya yang sekal padat ke dada Benny yang bidang dan berbulu lebat. Sementara itu, tangan Tante Dewi meluncur ke bawah dan meremas-remas milik Benny yang besarnya lebih besar dari pada pisang ambon. Dalam waktu tidak absolutist senjata Benny sudah benar-benar tegang. Tegak bagaikan tonggak. Besar dan panjangnya minta ampun. Tante Dewi yang sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya, melompat ke atas tubuh Benny, Kedua pahanya mengangkang di atas selangkangan Benny. Digenggamnya senjata yang aduhai itu. Dengan mesranya dibimhingnya menuju lobnag vaginanya yang sudah menganga, siap menanti datangnya sang perkasa. Diletakkannya tepat di mulut gua. Kemudian Tante Dewi menekan pantatnya. Dan: “Ohg . . . !!” kepala kemaluan itu melesak masuk. Blesss! Tante Dewi nyengir-nyengir kuda, menahan rasa sakit dan linu. “Hnmmhh . . . ehg!” Bennypun nyengir, menahan nikmatnya kepala kemaluannya digigit dan dipijit-pijit oleh mulut vagina Tante Dewi yang berkerinyut-kerinyut kencang. “Oukh, Bennn! Hmmhh . . . ssshhh . . . !!” Tante Dewi gemetar tubuhnya. Tetapi cuma sesaat. Tante Dewi yang sudah terbiasa menikmati kepunyaan Benny segera hilang rasa sakitnya. Dan Tante Dewi menekan lagi. Blassssh! ! !” Oukhhhh, Bennnnnn! Hmhhh . . . enak sekali , sayang hhhhh. Ssssh . . . !!” Mata Tanta Dewi membeliak-beliak. Batang zakar Benny telah amblas seluruhnya ke pangkal-pangkalnya. Tanta Dewi merasakan kenikmatan bukan alang kepalang. Demikian pula halnya Benny. Dinding-dinding vagina Tanta Dewi bagaikan hidup, menekan-nekan batang kemaluan Benny. Nikmaaaaat! Tanta Dewi menarik lagi pantatnya ke atas. Dan . . . uf! Seluruh isi bagian dalam lorong vagina Tanta Dewi bagaikan terbongkar bersamaan dengan menggelosornya zakar Benny. Demikian pula Benny. Lorong vagina Tanta Dewi bagaikan menyedot-nyedot. Benny mendesah-desah. Tante Dewi bagaikan kesetanan, menggoyang- goyangkan pantat dan pinggulnya yang besar, montok dan putih itu. Benny mengangkat pula pantanya, mengimbangi gerakan-gerakan Tante Dewi. Ternyata dengan posisi ini, cukup mendatangkan kenikmatan juga. Tantea Dewi di atas dan Benny di bawah. Sambil terus juga dengan bersemangat menaik turunkan pantatnya. Tanta Dewi menciumi bibir Benny bertubi-tubi. Benny membalas tak kalah semangat. Lidahnya masuk dan mengait-ngait lidah serta gigi-gigi Tante Dewi yang bersih, putih dan bagus bentuknya. Sementara itu, tangan Benny pun tidak tinggal diam, meremas-remas payudara Tanta Dewi yang kenyal, padat dan besar. Tentu saja dengan remasan-remasan mesra! Tante Dewi semakin absolutist semakin kesetanan. Benny pun demikian pu1 a. Keduanya merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak darl dalam diri mereka. Semakln absolutist desakan-desakan itu semakin kuat sehingga membuat napas mereka tersendat-sendat. Ibarat orang yang sedang mendaki bukit untuk mencapai puncak. “Ehb, Bennn . . . !!!” “Hmnmh! Sssh . . . oukh, Tante! Cepat dikit, sayang! Ayoh, Tante!” “Bennnn! Sash . . . eng! Ennaaaaaakhh, say . . . !!” “Sssst! Hmmmh . . . !!” “Bennnn! Akh! Akhhuu mau keluarrrr . . . say!” “Sayyyaaa jugghaaa, Tan . . . ! Oukh! Ayoh, Tantea! Putar terus! Semangat, Tante! Semangat! Oukh . . . !!” “Bennnnn !!!” Tante Dewi semakin kesetanan. Tangannya mengerumasi dada Benny, sehingga Benny kesakitan. Namun bercampur enak. Demikian pula dengan tangan Benny. Membantu pantat dan pinggul Tanta Dewi. Disaat menurunkan pantatnya, Benny membantu dengan menekankan pantat Tanta Dewi kuat-kuat ke bawah. Blasssh!! Maka tanpa ampun, amblaslah seluruh zakar Benny ke dalam kemaluan Tante Dewi. Masuk ke pangkal-pangkalnya! “Bennnnnnn!!” Tante Dewi meronta-ronta di atas tubuh Benny.” Ennnaaakhh, Bennn! Akkhhuuu tak kuatttsss laggghhhi, say!! Akhhu kelluuuuarrr! Ssssh . . . akkkhhhh . . . !!” bersamaan dengan jeritan Tante Dewi, tubuh perempuan itu berkelojotan ke sana-ke mari. Kedua kakinya menyepak-nyepak. Tante Dewi mencapai puncak kenikmatan sempurna, yang tidak pernah diperolehnya dari suaminya yang setengah impotent. Benteng pertahanannya bobol! Bertubi-tubi bagian dalam lobang vaginanya menyemprotkan cairan kental, hangat dan licin. Secara hampir bersamaan pula Benny pun mengeram keras. Bagaikan harimau lapar, Benny memeluk Tante Dewi kuat-kuat. Dan kemudian dengan sigap, Benny membalikkan tubuhnya, sehingga tubuh Tante Dewi yang berada di bawah. Benny menekan kuat sehingga Tante Dewi gelagapan. Batang zakar Benny berdenyut-denyut keras. Dan cairan kental, hangat dan licin pun bertubi-tubi pula menyembur, membanjiri lorong vagina Tante Dewi yang memang sudah banjir! Tante Dewl tergelincir dari atas tubuh Benny. Terkulai lemas. “Bennnn! Oukh, aku puasss sekali!” bisik Tante Dewi sambil memeluk Benny dari samping. Benny tak menjawab. Memandang langit- langit. Batang zakarnya masih tegak. Basah dan licin bekas-bekas cairan kenikmatan mereka berdua. Tante Dewi menciumi Benny bertubi-tubi. Tangannya meluncur ke bawah dan mulai mengurut-urut batang zakar Benny yang kehitaman. Rupanya Tante Dewi termasuk perempuan bertemperamen panas juga. Nafsunya menggebu-gebu. Merupakan pasangan setimpal dengan Benny. Diurut-urut terus oleh Tante Dewi mesra, nafsu Benny bangkit kembali. Napas Benny mulai lain. Tante Dewi senang sekali. Dia melompat dari sikap berbaringnya. “Ayoh, Bennn! Timpah aku dari belakang!” ujarnya sambil mengambil posisi nungging. Pantatnya yang besar dan montok itu diacu- acukan ke depan. Melihat pemadangan yang sangat merangsang itu, Benny, tak kuat lagi menahan diri. Dia melompat ke belakang pantat Tante Dewi. Dengan bernafsu, Benny meremas-remas dan menggigiti bungkalan pantat Tante Dewi yang bundar dan putih. “ Ayoh, Ben! Timpah aku! Hantam, Bennnn! Hantam! Jangan sungkan-sungkan! Lakukan saja sekehendakmu!” Ditantang seperti itu, tentu saja Benny yang berdarah jantan dan panas, tidak akan mundur. lnilah yang membuat Tante Dewi senang; sekali. Benny benar-benar kuda. Berapa kalipun melakukan sanggama, dia tetap siap. Tidak seperti kebanyakan lelaki-lelaki lain, yang sudah loyo hanya baru sekali atau dua kali bertempur saja. Benny mengambil posisi di belakang tubuh Tante Dewi yang nungging. Digenggamnya batang zakarnya yang sudah siap tempur. Diselipkan diantara belakang kedua paha Tante Dewi, dan kemudian menerobos bibir-bibir kemaluan Tante Dewi yang mencuat dan sudah terbelah. Dan, “Ehg . . . !!” Tante Dewi menahan napasnya. Kepalanya menyentak ke atas. Walaupun sudah terbiasa, mencicipi kepunyaan Benny, namun pada saat pertama kali kepala kemaluan yang bengkak itu menyelip, selalu Tante Dewi merasa kaget dan sedikit sakit! “Ayoh, Ben! Aku sudah siap . . . !!” ujar Tante Dewi dengan tubuh sedikit bergetar, menahan berat tubuh Benny yang memeluk pinggangnya dari belakang. Tante Dewi lebih menunggingkan pantatnya, sehingga bukit kemaluannya yang sudah bengkak itu semakin mumbul. “Hantammm, Bennnnn!” ujar Tante Dewi yang seolah-olah komandan memberikan aba-aba pada anak buahnya untuk bertempur. Benny segera melakukan tugasnya. Mengayun pantatnya. Dan batang zakar yang segede alaihim itupun menggelosor masuk, menerobos belahan daging kemaluan Tante Dewi dari belakang. Tante Dewi meringis-ringis, merasakan nikmat yang tidak bertara. Seluruh urat-urat tubuhnya bagaikan mengembang. “ Terus, terus Bennnn! Semuanya, sayangghhh . . . !! Jangan disisakan! Semuanya . . . oukhhhhh! !” Tante Dewi merintih-rintih dengan suara sengau. Benny merasakan hangat menyengat dan pijitan-pijitan lembut dinding-dinding vagina Tante Dewi membuat nafsunya semakin bergelora. “Oukh, Tante! Enaakhhh banget, khoook?!” Benny menggumam dengan mata merem melek. Pada waktu senjata Benny menggelosor masuk, Tante Dewi mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, menyambut terobosan maut yang sangat mesra itu. “ Ayoh, Bennnn! Hantammm terus! Yang keras, sayang! Kerassss, Bennnn! Kerasssshhhh . . . ! ! “Tante Dewi mcnggoyang-goyangkan dan memutar-mutar pinggul dan pantatnya dengan mesra sekali. Pada waktu Benny menarik senjatanya, Benny agak sedikit menekan pantatnya, sehingga Benny merasakan batang zakarnya yang luar biasa itu bagaikan dipulir- pulir. Oukh, nikmatnya! Bukan main! Inilah yang membuat Benny terkesan oleh Tante Dewi! Sebagaimana yang pertama, kali inipun keduanya sama-sama menyemprotkan cairan kenikmatan. Banyak sekali. Tante Dewi tersenyum-senyum bahagia. Oukh, Benny benar-benar hebat. Tante Dewi sudah beberapa kali menyeleweng dengan lelaki-lelaki lain, dikarenakan suaminya tidak dapat memberikan kepuasan. Namun diantara lelaki-lelaki itu, hanya Benny yang dapat memberikan kebahagiaan sempurna. Dan sejak Benny kost di rumahnya pada beberapa bulan yang lalu, Tante Dewi tidak pernah capital dengan lelaki- lelaki lain. “Bennnn! Jangan tidur dulu! Aku . . . aku . . . masih kepingin, sayang!” bisik Tante Dewi. “Ih, Tante kayak kuda betina saja!” kata Benny sambil memijit hidung Tante Dewi. “Dan kau kuda jantannya!” Tante Dewi tertawa kecil sambil menarik lengan Benny. “ Ayoh Ben! Kita bertempur sambil berdiri!” Demikianlah, sampai pagi, mereka terus bertarung. Entah berapa kali, tak terhitung. Keduanya akhirnya sama-sama menggeros kelelahan setelah matahari terbit. Namun sama-sama puas. Hari itu, Benny tidak ngantor. Tenaganya terkuras habis!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar