8.18.2010

cerita enny arrow

Langit cerah. Awan-awan putih bergumpal- gumpal di sela-sela langit biru. Benny merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Kedua lengannya disilangkan di bawah kepala. Absolutist dia memandang langit. Tetapi langit bagai tak tampak. Yang terlihat olehnya, bayangan kabut. Bergumpal-gumpal. Di antara kabut itu, bagaikan menyembul seraut wajah. Perempuan. Cantik. Dan tik. Dan Benny menarik napas panjang lagi. Seraut wajah itu tersenyum. Manisnya. Lebih manis dari pada gula atau segala yang batten manis di dunia ini. Benny memejamkan matanya. O, kesalnya dia. Tak ingin sebenarnya dia menyaksikan seraut wajah itu. Tetapi wajah itu seperti mengejarnya. Wajah Lisa. Wajah seseorang yang dicintainya. Benny membuka matanya lagi. Secara jujur, Benny, pemuda yang berusia sekitar dua puluh empat tahun itu, harus mengakui, bahwa dia sangat mencintai Lisa. Belum pernah sebelumnya, Benny mencintai seseorang, seperti besarnya kecintaannya kepada Lisa, Tetapi sekarang! Cinta yang besar itu telah berobah menjadi kebencian. Kebencian amat sangat. Benny merentak. Setengah menyentak, dia bangun dari sikap berharingnya. Berpaling ke kiri dan meludah. Dan . . . tiba-tiba mata Benny bentrok dengan mata seseorang. Seorang perempuan. Benny terperangah. Sejak kapan perempuan itu duduk di situ. Benny tidak melihatnya pada beberapa menit yang lalu. Perempuan itu, berwajah tirus dengan sepasang mata bola yang indah, dengan rambut dibiarkan tergerai pada bahunya, masih saja memandang Benny. Umurnya sekitar tiga puluh tahun. Sendirian ! Benny menelan ludah! Uf! Mata yang indah. Duduk dengan sikap agak sembarangan, sehingga ujung roknya tersingkap. Dan menyembullah pahanya yang memutih penuh ! Benny segera menarik pandangnya dan melemparkannya ke arah lain. Uf! Persetan dengan perempuan. Walau bagaimanapun cantiknya. Tentu dia tidak berapa jauh dengan Lisa! Benny memandang langit. Tetapi . . . mata perempuan itu sangat indah . . . Lebih indah dari pada mata Lisa. Secara naluriah. Benny berpaling lagi ke kiri. Dan lagi-lagi matanya bentrok. Uf! Perempuan itu membalas senyum Benny. lni benar-benar di luar dugaan. Dan Benny berpikir, perempuan itu cuma sendirian. Hmm! Benny mengangguk. Dan hati Benny jadi mengembang, bila perempuan itupun itu pun membalas mengangguk. “Aku tidak boleh ge-er!” ujar Benny dalam hati. “Aku tidak boleh mengharapkan terlalu banyak. Cukuplah bila bisa ngobrol-ngobrol. Dia sendiri. Dan akupun sendiri. Lumayan menjadi teman ngobrol!” Berpkir demikian, Benny menunjuk dirinya, kemudian menunjuk perempuan itu. Maksudnya, Benny menanyakan. bagaimana kalau Benny menemani perempuan itu duduk. menikmati alam indah Taman Ria. Perempuan itu tertawa kecil sambil mengangguk. Dan Benny tentu saja tidak ingin membuang-buang waktu. Segera dia berdiri dan menghampiri perempuan itu. “Tidak mengganggu?!” tanya Benny sambil duduk di sisi perempuan itu. “Senang sekali dikawani!” jawab perempuan itu. “Sendirian?” tanya Benny. “Seperti yang kamu lihat!” kata perempuan itu sambil mengerling. Kemudian melanjutkan: “Sebenarnya saya menunggu seseorang.” “Pacar?!” “Belum bisa dikatakan begitu. Hanya kawan biasa. Dan kamu?!” tanya perempuan itu, yang tahu betul bahwa Benny jauh di bawah umurnya. “Saya memang datang sendirian,” ujar Benny. “Nggak sama pacar?!” tanya perempuan itu sambil terscnyum. “Saya . . . eh, belum punya pacar.” “Bohong!” kata perempuan itu spontan. “Kenapa Mbak menuduh saya bohong?!” Benny mengernyitkan keningnya. “Umur kamu berapa?!” “Dust puluh empat!” “Dua puluh empat tahun, belum punya pacar. Siapa yang mau percaya!” “Tetapi saya betul-betul belum punya pacar!” jawab Benny. Padahal dalam hati, Benny sangat menyesali ucapan mulutnya. “Aku bohong, Mbak. Aku sebenarnya punya pacar. Tetapi aku sebel sama dia!” “Nama kamu siapa?!” “Benny. Dan nama Mbak?!” “Aningsih.” “Ya. Kenapa?!” “Nggak apa-apa! Nama yang manis!” Perempuan itu tertawa kecil sambil memukul bahu Benny. “Uf kamu ini! Baru ketemu, sudah merayu!” “Saya nggak merayu, Mbak. Nama Mbak memang manis, seperti orangnya. Cantik. Llncah. Dan ketawa Mbak itu, lho!” “Memangnya kenapa dengan ketawaku?!” “Manisnya nggak ketulungan!” Perempuan itu ketawa lagi. ketawa lagi ! “Makin manis saja,” kata Benny. Perempuan itu, yang menyebutkan namanya Aningsih, memukul bahu Benny. Ganti Benny yang ketawa-ketawa senang. “Kamu seharusnya sudah punya pacar.” “Nggak ada perempuan yang mau sama saya.” “Bohong! Kamu ganteng! Pasti banyak perempuan yang mau sama kamu!” “Sungguh kok, Mbak,” kali ini Benny bicara lebih serius. Dicabutnya sebatang rumput yang tumbuh di hadapannya. Digigitinya ujungnya sampai hancur. Kemudian dilemparkannya. Lalu berkata dengan suara lebih perlahan: “Tak ada perempuan yang mau sama saya!” “Mengapa kamu beranggapan demikian?!” “Kenyataannya memang begitu.” “Jangan-jangan kamu sendiri yang jual mahal. Sebenarnya banyak perempuan yang mau sama kamu. Tetapi kamu sombong. Tidak memandang sebelah mata pada mereka!” “Tidak begitu, kok!” jawab Benny. “Saya biasa-biasa saja!” “Kalau kamu biasa-biasa saja pasti sudah punya pacar!” Benny mencabut lagi sebatang rumput, menggigitnya, kemudian membuangnya lagi jauh-jauh. “Saya memang pernah punya pacar. Kan saya sangat mencintainya. Tetapi . . . ” terputus ucapan Benny. “Tetapi mengapa . . . ?!” bertanya Mbak Ning antusias. Rupanya dia ingin tahu. Benny mencabut lagi sebatang rumput. Seperti tadi, digigitnya, kemudian dilemparkannya jauh- jauh. “Putus, Mbak.” “Mengapa putus?!” Benny diam. Memandang ke arah danau. Mbak Ning juga memandang ke arah danau, lalu kembali pada Benny. “Mengapa putus?!” Mbak Ning mengulangi pertanyaannya. “Barangkal sudah begitu nasib saya!” “Pasti kamu yang memutuskan. Kamu sudah bosan sama dia. Kamu kepingin ganti pacar lain. Maka kamu mencari gara-gara!” “Saya tidak serendah itu.” “Lalu mengapa bisa putus?!” “Dia yang memutuskan.” “Dia pacaran dengan lelaki lain?!” “Ya!” Aningsih menghela napas. “Kalau begitu, kamu patah hati sekarang. Tidak apa. Kisah cinta tidak selalu berjalan mulus Kamu laki-laki. Tidak boleh cengeng. Masih banyak yang bisa kamu harapkan dalam hidup ini. Perempuan tidak cuma satu di dunia ini!” “Barangkali memang begitu. Tetapi saya sulit sekali melupakannya.” “Kamu sangat mencintainya?!” “Ya!” “Kamu harus berusaha melupakannya. Itupun kalau kamu benar. Jangan-jangan kamu cuma bohong!” “Sungguh kok, Mbak Ning. Saya tidak bohong. Kalau Mbak tidak percaya, Mbak boleh melihat fotonya,” sambil berkata demikian Benny mengambil dompetnya dan mengeluarkan sehelai foto berukuran separoh kartu pos. Diserahkannya pada Mbak Ning. Perempuan itu mengamat-amati foto itu. Foto seorang gadis separuh badan. Cantik. Berusia sekitar dua puluh satu tahun. Mbak Ning menyerahkan kembali foto itu. “Cantik memang. Pantas kamu sangat mencintainya. Tetapi Mbak lihat, gadis ini blazon setia. Rasanya hampir tidak mungkin kalau dia mengkhianati cinta kalian!” Benny menyimpan kembali sehelai foto itu ke dalam dompetnya, kemudian dimasukkan ke saku belakang celananya. “Mengapa Mbak tidak percaya, padahal saya sudah menceritakan yang sebenarnya.” “Kalau memang begitu, yah . . . apa boleh buat. Kamu harus tabah,” suara Aningsih seperti yang sedang memberi petuah. “Ya, memang. Saya harus tabah,” ujar Benny. Angin melembut, menggerai-geraikan rambut mereka. Perahu-perahu masih saja hilir mudik di danau buatan. Pucuk-pucuk pinus bergoyang di ke jauhan. Di bawah mereka, di aspal jalan yang melingkari bukit kecil panjang itu. Ada sepasang manusia yang berjalan mesra sekali. Lengan si lelaki melingkari pinggang si wanita. Sedangkan kepala si wanita menyandar ke bahu si lelaki. Mesranya! Selangit! “Kadang saya sering iri jika melihat kemesraan orang lain,” ujar Benny yang melihat sepasang insan yang saling mencinta itu. “Kalau begitu, mengapa kamu datang ke mari sendirian?! Di sini banyak sekali pemandangan yang menyiksamu!” “Tempat ini banyak memberikan kesan pada saya, Mbak. Saya dan Lisa datang ke mari. Kami bermesraan. Saya senang mengembalikan kesan-kesan itu!” Mbak Ning tertawa. “Kau salah!” katanya. “ Yang begitu, malah akan semakin menyiksamu! ” “Yah, saya memang salah. Memang salah!” ujar Benny seperti mengeluh. Lalu Benny mencabut lagi sebatang rumput. Digigitinya. Lalu dilemparkannya kembali. “Dan Mbak sendiri?! Mengapa Mbak ada di sini?!” “Sudah kukatakan, bukan?! Aku menunggu seseorang.” kali ini wajah Mbak Ning menampakkan kegelisahan. Benny menatap lebih tajam. “Kelihatannya Mbak bohong!” “Kamu tidak percaya?!” “Ya! Saya tidak pereaya!” “Apa yang menyebabkan kamu tidak percaya?! ” “Mata Mbak! Mulut Mbak, bisa bohong. Tetapi mata Mbak tidak. Mata Mbak lebih jujur!” Aningsih menggigit-gigit bibirnya sendiri. “ Saya tidak bohong.” “Lalu, yang menunggu mbak itu, tidak datang?! ” “Sudah hampir satu jam aku menunggu. Rasanya dia memang tidak datang.” “Barangkali dia ada halangan.” “Ya! Barangkali!” Aningsih melihat ke jam tangannya. Sudah jam lima lewat. Matahari sudah redup di langit. Angin bertambah sejuk semilir. Absolutist mereka ngobrol. Melompat dari satu masalah ke masalah lain. Kebanyakan tidak penting. Suasana petang semakin hilang. Berganti dengan gelap. Bulan di langit tersenyum. Bulan sabit. Di pebukitan tidak hanya mereka berdua. Tetapi banyak lagi yang lain. Mereka adalah pasangan-pasangan yang saling memadu kasih. Dan sekarang, Aningsih dan Benny tidak lagi berjauhan. Aningsih meletakkan kepalanya ke bahu Benny. “Kalau saja pacar Mbak melihat kita, tentu akan cemburu!” ujar Benny. Akingsih tersenyum. “Aku belum punya pacar. ” katanya. “Lalu?! Lelaki yang janjian sama Mbak, yang ternyata sekarang tidak datang?!” Aningsih menggeser-geser rambutnya ke leher Benny, “Lelaki itu belum absolutist kukenal. Baru dua kali bertemu. Dan sekarang dia tidak datang. Janjinya tidak bisa kupercaya!” ujar Aningsih. Benny merasakan geli yang nyaman ketika Aningsih menggeser-geserkan rambutnya ke lehernya. Geli yang merambati pembuluh- pembuluh darahnya. Angin malam berkesiur dingin, menusuk tulang. Tetapi tidak demikian halnya dengan Ning dan Benny. Keduanya sama sekali tidak merasakan dingin. Hati mereka hangat. Lengan-lengan mereka saling merangkul. erat. Keduanya merasakan diri melayang. Bayang-bayang pepohonan menimpa mereka. “Boleh aku ke rumah Mbak Ning kapan-kapan?!” tanya Benny. “Mengapa tidak?! Aku senang sekali kalau kau mau datang.” kata Ning. “Pasti! Pasti aku akan datang!” kata Benny. Lalu mereka berkecupan. Hangatnya bibir Benny. Hangatnya bibir Ning. Lalu tangan- tangan mereka saling bergenggaman. Lalu saling meremas. Lalu berkecupan lagi. Mesranya. Dan bayang-bayang pohon semakin menghitam. Angin semakin dingin berkesiur. Mereka tak ubahnya seperti sepasang kekasih yang sudah absolutist saling memadu kasih. Sampai akhirnya, Aningsih seperti tersadar menatap jam tangannya. “Ah, sudah jam delapan!” katanya. Lalu dilepaskannya rangkulannya. “Kita pulang, Ben!” Rasanya cepat sekali waktu berlalu. Benny dan Aningsih melangkah kecil, menuruni pebukitan itu. Lengan Benny melingkari pinggang Aningsih yang ramping. Suatu ketika, hampir Aningsih tergelincir. Lengannya bergelayutan di leher Benny. Benny cepat meraih pinggang Aningsih erat-erat. Mereka berpelukan sambil berdiri. “Kuantarkan Mbak pulang.” ujar Benny “Tidak. Biar aku pulang sendiri.” “Kata Mbak, aku boleh ke rumah Mbak Ning.” “Boleh. Tetapi tidak sekarang.” “Kalau begitu, Malam Minggu nanti?!” “Jangan Malam Minggu.” “Pacar Mbak datang. ya?!” “Bukan. Malam Minggu nanti aku ada acara keluarga.” “Acara apa ?! Ulang tahun?!” “Bukan! Arisan keluarga! Ah, kau banyak tanya.” “Kalau begitu, Malam Rabu depan. Seminggu lagi?!” Aningsih mcngernyitkan keningnya. “ Baiklah! Aku tunggu kau!” lalu Aningsih menyetop taksi. Sejurus kemudian, taksi pun melesat meninggalkan Benny yang masih saja mematung memandangi taksi itu. Lalu Benny menstarter motornya. Sungguh, dia tak menyangka, malam ini akan bertemu dan berkenalan dengan Mbak Ning. Dan dia tak menyangka, bahwa perkenalan itu cepat menjadi rapat. Keduanya tersenyum- senyum kecil. Terbayang kembali, bagaimana mesranya bihir Mbak Ning menindih bibirnya. Betapa hangatnya. Betapa lembutnya. Hampir saja Benny menubruk bus tingkat yang tiba- tiba saja berhenti. Untunglah naluri Benny cukup tajam untuk menghindari tubrukan itu. BENNY TIDAK dapat melupakan Aningsih. Di tempat pekerjaannya, Benny tetap ingat. Ini menjadikan Benny banyak melamun. Nelly mengageti Benny. Benny tersentak. Hampir saja berhenti jantungnya. Nelly terkikik-kikik. “Tampangmu lucu sekali kalau lagi kaget,” kata Nelly sambil menutupi mulutnya. “Kalau jantungku putus, apa kamu bisa ganti?! ” tanya Benny kheki. “Bisa! Aku ganti saja sama hati monyet!” “Enak saja! Apa kau kira aku ini satu keluarga dengan monyet?! kata Benny lagi. “Aku tahu. Pasti Benny lagi kasmaran,” ujar Oding. Apa yang dikatakan Oding memang hampir benar. Benny melamun. Dan Aningsih yang dilamunkan. Terbayang wajahnya. Terbayang gerak-geriknya. Terbayang tertawanya. Semua, semua. Dan Benny membandingkan Aningsih dengan perempuan-perempuan yang pernah dikenalnya. Dengan Hera, Yani, Dari dari banyak lagi wanita-wanita lain. Namun Aningsih mempunyai daya tarik sendiri. Rasanya absolutist sekali sampai menunggu hari Rabu tiba. Menit demi menit yang berlalu, rasanya sangat lambat. lngin dipaksakannya matahari bergeser cepat ke sebelah barat, agar hari cepat berganti! HARI RABU. “Mbak Ning tinggal sendirian di sini?!” tanya Benny pada Aningsih. Mereka duduk di ruang tengah rumah Aningsih. Pada jam sepuluh pagi, Akingsih belum mandi. Tetapi di mata Benny, bahkan Aningsih tampak lebih cantik dan menawan. “Tidak! Bersama teman, Mbak. Hilda! Dan seorang pembantu!” jawab Aningsih sambil meletakkan segelas kopi susu di hadapan Benny. Benny mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah. Hm, rapi. Pertanda rumah ini ditangani oleh orangorang yang apik. “Mbak Ning kerja?!” tanya Benny lagi. “Tidak! Aku cuma dagang permata. Yah, hasilnya lumayan juga,” kata Aningsih sambil berdiri dari duduknya. “Kau tunggu sebentar. Mbak mandi dulu. Kalau mau baca-baca majalah, tuh du bupet. Banyak!” kemudian Aningsih masuk ke kamarnya, mengambil handuk. Kemudian keluar lagi dan melenggang ke kamar mandi. Mata Benny tak lepas dari pinggul Aningsih yang bergoyang-goyang. Aningsih melepaskan satu-satu yang melekat di tubuhnya. Hmm, air terasa sejuk ketika mengguyur tubuhnya yang mulus. Lalu tangannya yang lentik mulai menyabuni. Mulai dari leher, turun ke bahu, turun lagi ke sepasang pebukitan indah di dadanya. Seluruh apa yang ada pada dirinya, merupakan panorama sangat indah yang akan mendatangkan kesan mendalam bagi yang memandangnya. Sambil menyabuni itu, Aningsih berpikir: “Benny benar-benar datang! ” Aningsih benar-benar tidak menduga, bahwa Benny akan menepati janji. Pemuda itu sangat menarik. Tubuhnya tegap dan atletis. Tubuh yang dirindukan oleh perempuan. “Bennnn !!!” Benny yang sedang duduk membaca majalah di ruangan tengah, mendengar suara Aningsih yang memanggilnya mesra. Benny menutupkan majalah dan buru-buru ke kamar mandi. Pintu kamar mandi setengah terbuka. Aningsih berdiri dengan handuk sebatas dadanya! Benny terkesiap. Hmm, dengan handuk itu, tubuh Aningsih tercetak indah. Terutama kulit bahu dan pahanya yang sangat mulus. Kencang dan sekal. Membuat mata Benny tidak berkedip. Aningsih tersenyum sambil menjentik pipi Benny. “Mengapa kau pandangi aku seperti itu, sih?! Apa ada yang aneh pada diriku?!” “Ah, tidak. Aku . . . eh, Mbak cantik sekali!” kata Benny gelagapan dan serba salah. “Wowww! Rayuan gombal!” ujar Ningsih sambil mengerling manis. “Bennn!! Tolong aku, ya . . . ?!” “Tolong apa, Mbak?!” “Tolong ambilkan aku sendal di kamar. Sendal yang warna merah. Brengsek, deh. Aku lupa pakai sendal ke kamar mandi.” kara Aningsih dengan suara manja. Suara yang membuat hati Benny panas dingin. Benny segera ke kamar Mbak, Ning, mengambil sendal merah. La.lu kembali ke kamar mandi. “ Terima kasih, Ben!” ujar Aningsih sambil mengenakan sendal yang diambilkan Benny. Tetapi baru saja mengenakan sebelah, tiba- tiba kaitan handuk Aningsih terlepas. Dan cepat sekali handuk itu meluncur ke bawah. Aningsih terkejut. “Oh . . . !” serunya. Tetapi Aningsih sudah tidak mengenakan apa-apa lagi. Yang terlebih gawat adalah Benny. Jantungnya dirasakan bagai akan meledak . . . Matanya membelalak. Dan Benny tidak nampu menguasai diri lagi. Ditubruknya Aningsih. “ Bennnn! Kau ini, Apa-apaan . . . ?!” Aningsih meronta-ronta. Namun rontaan-rontaan itu terlalu lemah. Tidak mungkin mampu melepaskan diri dari pelukan Benny yang ketat. “Bennn! Jangan, ah! Oukh, kamu ini . . . !! ” Aningsih masih mencoba meronta. Tetapi . . . ah, tidak. Lebih tepat dikatakan menggeliat. Kepala Aningsih menggeleyong ke kiri dan ke kanan. Menghindari bibir Benny yang mencari- cari bibirnya. Benny tak sabar. Didorongnya tubuh Aningsih. Ditekankannya ke dinding kamar mandi, sehingga Aningsih tidak leluasa lagi bergerak. Dan sekejap kemudian, mulut Benny berhasil menangkap bibir Aningsih. “ Hmmmm! Mmmmmm !!” Aningsih tidak lagi meronta. Matanya segera meredup. Menerima pelukan dan kuluman bibir Benny yang hangat. Bahkan sekarang, Aningsih ikut membalas. Dijulurkannya lidahnya. Saling mendorong dengan bibir Benny. Matanya semakln redup. Lincah sekali lidah Aningsih mengait-ngait lidah Benny. Mendapat sambutan yang hangat, darah muda Benny semakin membuncah. Panas! Menuntut pelepasan. Apalagi ditambah dengan sepasang payudara ranum milik Aningsth yang menekan dada Benny yang bidang! “Bennnnn! ! Hmmphh . . . akh!” “Mbak !! Ssssh !!” “Sesak napasku, Bennnnn!!” “Biarlah sesak!” “Putus jantungku!” “Biarlah putus!” “Kalau aku mati . . . ?!!” “Aku akan ikut mati!” Aningsih tertawa sambil mencubit pipi Benny. “Ih, kok kayak Romeo dan Yuliet saja. Kalau aku mati, apa kau benarbenar mau ikut mati?!” “Mau! Demi Mbak!.’ujar Benny sambil menciumi leher Aningsih dengan lembut sekali. Aningsih menggeliat-geliat. Lehernya menggeleyong- geleyong ke sana-ke mari. Sikap seorang perempuan yang penuh rangsangan. “Benn . . . !!” Aningsih menyebut nama lelaki itu ditengah-tengah rintihannya. “Ada apa Mbak?!” “Mengapa kau bersikap begini padaku?!” dan Aningsih lebih terengah-engah lagi, bilamana hidung Benny menyapunyapu pankkal buah dadanya yang montok. “Saya . . . saya . . . cinta pada Mbak . . . !!” ujar Benny di tengah dengus-dengus napasnya. Aningsih tertawa kecil. Telapak tangannya sebentar mengeluas dan sebentar menekan belakang kepala Benny. “Kamu nggak bohong?! ” tanya Aningsih sambil membusungkan dadanya yang montok dan putih itu, agar Benny lebih le-luasa melakukan aktifitasnya. “Saya nggak bohong, Mbak!” “Kamu bohong . . . !” Aningsih memijit hidung Benny dengan gemas. “Aww . . . !” Benny menjerit. Pijitan itu mendatangkan sakit. Tetapi juga nikmat. “Kamu bohong, Ben! Lelaki memang begitu. Suka bohong. Rayuannya gombal. Selangit. Tetapi buktinya, nol! Nol kosong! Dan perempuan-perempuan banyak yang tertipu. Mereka akhirnya cuma bisa menangis dan menangis!” ujar Aningsih sambil sambil menekankan dadanya yang sekal, lengkap dengan putihnya yang kemerahan menantang itu kedada Benny yang bidang. Dan Benny merasakan sesuatu mengutik-utik di antara kedua pangkal pahanya, di balik celana panjangnya. “Tetapi aku tidak begitu, Mbak. Kau tidak boleh menyamaratakan semua lelaki!” Benny panas dingin menahankan sesuatu yang bergelora, membuat kelenjar darahnya berdenyut-denyut. “Tetapi, Ben! Apa betul kamu sungguh- sungguh mencintaiku?!” Aningsih melepaskan satu demi satu-satu kancing hemd Benny. Dan kemudian melepaskan hemd lelaki itu. Hemd itu meluncur begitu saja, jatuh ke lantai kamar mandi yang basah. Seperti yang dibayangkan Akingsih, tubuh Benny sangat mengagumkan. Tubuh atletis. Bahunya tegap. Kedua lengannya kekar, berurat. Dan dadanya berbulu lebat. Sirrr . . . ! Berdesri darah Aningsih bilamana bulu-bulu dada yang keriting lebat itu bergesek ke dadanya. “Bennn!” bisik Aningsih. “Ada apa, sayang?!” tanya Benny. “Bawa aku kamar. Di sini . . . di sini . . . dinginnnnn . . . !!!” Benny tak perlu menunggu diperintah sampai dua kali. Segera didukungnya Aningsih ke luar dari kamar mandi. Mbok Inem, pembantu Aningsih sedang ke pasar. Benny meletakkan tubuh mulus yang sudah tidak ditutupi sehelai benangpun ke tempat tidur. Kemudian lelaki muda itu melepaskan celana panjangnya. Sambil berbaring. Aningsih menatap tubuh Benny yang aduhai itu. Benny hanya mengenakan celana dalam kecil saja. Berwarna putih. selangkangan Benny tampak menonjol. Dan Aningsih menelan ludah. Di balik celana dalam itu, meremang hutan lebat menghitam. Bergompyok. Terus menyambung sampai ke pusar Benny. Dan Aningsih sekali lagi menelan ludah. “Bennnn . . . !!” ujar Aningsih. “Ada apa, sayang?!” “Bukalah celana dalammu. Bukalah!” Benny tersenyum, melepaskan celana dalamnya. Dan . . . wow!! Mata Aningsih membelalak. Bagaimana tidak?! Sesuatu yang biasanya selalu tersembunyi itu, kini terpampang bebas. Bazoka Benny! Senjata yang menggayut setengah tegang itu, panjang dan besar. Hebat sekali! Seakan-akan menantang bagi yang memandang. Benda luar biasa itu mengangguk-angguk. Menghitam! Mulai dari bagian pangkalnya, lebat ditumbuhi rambut kriting: Bukan main! Seumur hidupnya, Aningsih belum pernah menyaksikan benda sehebat dan seindah itu. D U A BUKAN BARU sekali ini Aningsih menghadapi lelaki. Tetapi secara jujur, Aningsih harus mengakui, bahwa lelaki seperti Benny sangat jarang ditemuinya. Lelaki bertemperamen panas. Jantan! Romantis. Lelaki-lelaki yang dihadapinya, kebanyakan loyo. Tidak dapat memberikan kepuasan padanya! Aningsih membiarkan saja Benny meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan putingnya yang kemerahan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan- gerakan bukit indah itu. Dan Benny meremasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan. Aningsih merengek manja. Menggeliat sambil merintih. Matanya meredup. Oukh, telapak tangan Benny hangat dan seakan-akan mengandung magnit. Membuat Aningsih jadi terangsang. Tangan lelaki itu masih juga meremas. Berpindah-pindah. Puas sebelah kanan. Beganti dengan sebelah kiri. Bervariasi dengan tekanan-tekanan yang romantis. Mendatangkan rasa geli-geli dan nikmat. “ Oukh, Bennnn! Hmmnrhhh . . . sssh, akh!” ujar Aningsih sambil membusungkan dada yang sedang diremas Benny, agar Aningsih lebih dapat meresapkan rasa geli-geli nikmat itu. Benny memang pintar menaikkan rangsang perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang pintar bermain. Tetapi juga hidung dan mulutnya. Hidungnya menciumi permukaan payudara yang padat dan montok itu. Tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Bentuknya sangat indah. Membuat gemas. Cara Benny menciumi sepasang payudara itupun bervariasi. Sebentar keras dan sebentar lembut. Dan darah yang mengalir di tubuh Aningsih semakin deras saja! “Ben !! Kamu sering capital perempuan!” tanya Aningsih ditengah-tengah napasnya yang terengah. “Tidak sering, Mbak. Baru beberapa kali saja.” ujar Benny sambil membuka mulutnya dan memasukkan puting buah dada yang merah kecoklatan itu. “Auww . . . !!” Aningsih menjerit lirih. Dan perempuan itu menggelinjang-gelinjang, bilamana puting buah dadanya dikulum oleh Benny. Dan untuk kesekian kali, Aningsih harus mengakui, bahwa kuluman bibir Benny sangat berbeda dengan kuluman bibir lelaki- lelaki lainnya. “Hsssh, akh! Terus, Bennnn! Terussss, sayangghhh . . . !! Hmmmhhh . . . !!” dua telapak tangan Aningsih mengerumasi rambut Benny sambil menekankan. Benny semakin terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada itu. Dikulum oleh Benny. Dilepaskan. Dikulum. Dilepaskan lagi. Berganti- ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosan- bosannya. Dan puting itu semakin tegang lagi. Benny melakukannya bervariasi. Sebentar lembut dan sebentar keras. Dan rasa geli bercampur kenikmatan semakin terasa. “Oukh, Benny! Teruskan, sayanghhh . . . !! Sssh ennnak, Bennnn!!!” mulut Aningsih mendecap- decap seperti orang kepedasan. Tersendat- sendat. Dan buah dada Aningsih semakin keras, pertanda perempuan itu kian terangsang. Lebih-lebih bilamana Benny menggeser-geserkan di antara gigigiginya. Nikmat! Dan napas Aningsih turun naik. “ Bennyy!! Keras, dikit! Ya, ya. gitu. Aukh, Bennnn! Kok enakkkh, sihhhh !” dan Aningsih merintih-rintih. Benny semakin bersemangat. Digigit-gigitnya pentil susu yang kenyal itu. Dihisapnya. Lalu dijilatinya dengan bernafsu. Sebentar ditinggalkannya, puting itu. Lalu Benny mengecupi buah dada ranum itu bertubi-tubi. Lalu kembali ke pentil susu .yang siap menanti. Dibisapnya lagi. Digigitinya. Dikulum- kulumnya Lalu dilepaskannya lagi. Sementara tangan Aningsih tak menentu mengerumasi rambut Benny yang tebal, sehingga rambut lelaki itu menjadi acak-acakan. Lama Benny mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu. Demikian pula dengan ketiak perempuan itu. Benny tak mau membiarkan menganggur. Ketiak Aningsih berbulu lebat. Sesuai dengan selera Benny. Benny memang batten senang dengan perempuan-perempuan yang cantik yang ketiaknya berbulu lebat. Sesuai dengan pengalaman Benny, biasanya perempuan- perempuan itu bertemperamen panas. Benny menciumi ketiak perempuan itu, lalu menurun sampai ke pinggang sebelah kiri. Naik lagi ke ketiaknya, menurun lagi sampai ke pinggangnya. Demikian berulang-ulang. Benyy juga menggunakan ujung lidahnya untuk menjilatjilat sambil menggigiti keras dan lembut. “Uukh, Bennnn! Kami sungguh pintar membahagiakan perempuan . . . !!!” bisik Aningsih terputus-putus. Benny bukan hanya sekali ini mendengar ucapan seperti itu. Ketika mencumbu ibu kostnya, Tante Dewi, Benny juga menerima ucapan-ucapan seperti itu. Di samping itu, Tante Dewi juga mengatakan, bahwa seumur hidupnya, dia takkan mampu melupakan Benny. Permainan lidah Benny terus dengan gencar menyerang tempat-tempat di tubuh Aningsih yang sensitip. Dijilatinya perut Aningsih yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman-ciuman Benny berulang-ulang. Sambil berbuat demikian, tangan Benny membelai- belai kedua paha Aningsih yang masih terkatup. Aningsih sudah gemetar tubuhnya. Panas dingin. Ketika Aningsih menengok ke bawah, pandangannya beradu pada sesuatu di antara kedua paha Benny. Aningsih menelan ludah. Benda itu sejak tadi menggodanya. Aningsih menurunkan tangannya. Digenggamnya batang zakar Benny yang aduhai. Benny yang sedang menciumi sedikit di bagian bawah pusar Aningsih tertahan-tahan napasnya. “Oukh. Mbak . . . !” katanya. Aningsih merasakan benda yang digenggamnya, yang baru separuh tegang, hangat dan besar. Senang sekali menggenggam seperti itu. Sementara itu. tangan Benny masih juga terus meraba-raba Aningsih berganti-ganti. “Sabar, Mbak!” bisik Benny. “Nanti Mbak boleh berbuat apa saja terhadap punyaku. Tetapi sekarang, aku sedang ingin mencumbu tubuh Mbak. Seluruh tubuh Mbak! Kurang leluasa kalau Mbak menggengam punyaku begini!” Apa boleh buat. Meskipun Aningsih masih ingin menggenggam batang zakar yang luar biasa itu, terpaksa dilepaskan. Maka kini dengan leluasa melakukan aktifitasnya. Dan . . . hhmmmh! Benny menahan napas bilamana pandangannya ditujukan ke selangkangan Aningsih. Bagian itu gompyok ditutupi rambut yang tebal keriting. Hmmh! Rambut kemaluan Aningsih bukan capital lebat dan ikal. Menghitam! Kata orang, semakin tebal rambut kemaluan perempuan akan semakin enak kalau digituin. Dan sekarang, secara jujur, Benny harus mengakui, bahwa dia belum pernah mendapatkan perempuan yang rambut kemaluannya setebal dan selebat Aningsih. Benny menelan ludah. Jika menuruti nafsunya, tentu saja seketika itu juga Benny akan membenamkan batang kemaluannya yang sudah kian tegang, ke belahan daging hangat di balik rimbunan hutan lebat itu. Tetapi Benny bukanlah blazon lelaki yang serba grasa-grusu. Dia tidak akan menggituin pereinpuan, sebelum lebih dulu memberikan kesan yang sangat mendalam. “ Oukh, Ben!” Aningsih menepuk pipi Benny lembut. “Kau kok jadi berobah seperti patung! Apa aku ini aneh bagimu!” Benny menelan ludah sambil tersenyum. “ Bukannya aneh, Mbak. Tetapi anumu, nih . . . !” ujar Benny sambil membelai rambut kemaluan Aningsih. “Rambut kemaluan ini indah dan menawan sekali. Baru rambutnya saja sudah begini menggiurkan, apalagi kemaluanmu. Tentunya enak sekali. Hmmh!” Aningsih tertawa kecil. “Kau senang sekali pada rambut kemaluanku. Ben?!” tanya Aningsih sambil menggosok-gosok bulu-bulu rambut di dada Benny. “Senang sekali, Mbak. Senang sekali,” Benny masih terus dengan mesra membelai-belai rambut kemaluan yang indah itu. “Kamu sering mengerjai perempuan yang rambut kemaluannya setebal punyaku!” “Belum, Mbak. Baru sekali ini. Bahkan aku pernah menccipi punya perempuan yang botak! ” ujar Benny. Aningsih tertawa kecil lagi sambil mengerumasi ramhut Benny. “Nah, terserah kaulah. Perbuatlah apa saja yang kau sukai pada punyaku!” Walaupun tanpa diperintah seperti itu, tentu saja Benny akan berbuat sesukanya terhadap kemaluan Aningsih yang kini sudah terpampang di hadapannya. Benny menggerai- geraikan rambut kemaluan yang tebal, panjang dan keriting itu. Lalu ditekan-tekannya. Lalu diciuminya. Kadang-kadang ditarik-tariknya. Aningsih merasakan kemesraan amat sangat. Secara naluriah, pahanya mulai membuka sedikit demi sedikit. Jari-jari tangan Benny bermain-main di pebukitan itu. Hmmh, mesranya! Selangit! “Bennn !!” Aningsih merintih. Benny menguakkan bibir-bibir kemaluan Aningsih. Hmm, tampak bagian dalamnya yang kemerahan. Sangat indah menawan. Benny menelan ludah. Beginilah kiranya kemaluan perempuan. Dengan mesranya, Benny meraba- raba vagina yang indah itu. Merah dan licin. Pada bagian atas, pada pertemuan antara dua bibir, tampak sekerat daging kecil. Nyempil sendirian. Tidak berteman. Sungguh kasihan. Benny memandangi sepuas-sepuasnya panorama indah mengesankan itu. Ningsih memijit hidung Benny agak kuat. “Oukh, Ben! Mengapa cuma melihati saja?! Memangnya punyaku barang tontonan!” Benny tersenyum. Tahulah dia, bahwa Aningsih sudah kepingin sekali dikerjai vaginanya. Padahal Benny masih ingin lebih absolutist memandangi. Vagina Aningsih rasanya lebih indah dari pada vagina-vagina perempuan lain yang pernah disaksikannya. Dengan mesra, jari-jari Benny menyentuhnya. Aningsih tergelinjang. “Wow! Hmmh, Bennnnnnn!! Ss sh, akh!” Aningsih menggeliat. Jari Benny terus juga bermain. Mengutik-utik kelentit yang nyempil aduhai. Benny menempatkan di antara kedua paha Aningsih yang sudah mengangkang. Liang vagina yang sebaris dengan sibakan bibir inilah yang dapat menjepit dan memberikan kenikmatan kepada zakar. Lagi-lagi tangan Benny menyentuh kelentit yang cuma sekerat itu. Dan lagi-lagi Aningsih bergelinjang. Nikmatnya bukan main. Orang suka bilang, kelentit itu bisa berdiri. Benarkah?! Benny senang sekali dan mengulangi perbuatannya berkali-kali. “Oukh, geli, Ben! Geliiiii! Sssh, akhh . . . !!” Aningsih merintih-rintih. Tingkah Benny saat itu, bagaikan kanak-kanak yang memperoleh permainan yang mengasyikan. Permainan yang tidak ada dijual di toko. Semakin giat Benny menyentuhi sekerat daging kecil itu. Aningsih mengerumasi rambut Benny. Tidak puas dengan hanya menyentuh dengan tangan saja, bibir-bibir kemaluan yang ditumbuhi rambut itu, dikuakkan oleh Benny semakin lebar lagi. Kedua kaki Aningsih kini telah niengangkang selebar-lebarnya, menekuk ke atas. Sekarang, bagian dalam kemaluan itu telah terpampang selebar-lebarnya. Terbebas sama sekali. Sedetik kemudian, Aningsih terpekik: “Awww . . . !” Tubuhnya tersentak ke atas. Rupanya Benny telah membenamkan hidungnya ke dalam belahan daging yang aduhai itu. “Bennn . . . !! Uf ! Ssssh ennnakhhh, Bennn!!” Aningsih merintih-rintih sambil menekankan belakang kepala Benny dengan kedua tangnnya. Maka hidung Benny mulal menggusur ke sana-ke mari. Seperti akan membongkar seluruh bagian vagina Aningsih. Kaki Aningsih menendang-nendang ke atas, merasakan kenikmatan tidak bertara. Benny terus dengan giatnya menciumi. Vagina Aningsih menyebarkan balm yang segar merangsang! “Oukh, Bennn! Enak . . . enak . . . enak, sayangghhhh! Teruskan, Ben! Ayo, lebih cepat .dikit. Hmmmh Bennnn! Terus, sayang. Terus, terus, akhhhh !!” “Aku juga, Mbak! Aku . . . aku . . . juga enak,” bisik Benny sambil juga menggunakan. lidahnya, menjilat dan menjilat. Mata Aningsih merem melek. Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Lehernya menggeleyong-geleyong. “Bennn! Kamu senang menciumi punyakuuuu . . . ?!! Shhh . . . !!!” tersendat-sendat suara Aningsih. “Senang sekali, Mbak! Punyaku jadi semakin tegang, nih!” kata Benny tersendat-sendat pula. Dan lidah Benny terus juga menjilat dan menjilat. Menyapu-nyapu kelentit Aningsih. Benar saja! Kelentit itu semakin tegak, menandakan Aningsih telah terbakar oleh nafsu birahi. Kedua kaki Aningsih terus menyentak-nyentak ke atas. Pantatnya diangkat dan digoyang-goyang. Oukh, sungguh, permainan yang mengasyikkan. Benny benar-benar menyukai menciumi dan menjilati vagina Aningsih yang harum itu. Sama sekali tidak jijik. Justru sebaliknya. Ketagihan. Benny semakin rakus dan semakin rakus. “Bennn!!! Hhhssshh. Hmmm . . . hmmmhhh!” suara Aningsih menggeletar. Badannya nienggeliat-geliat tak menentu. Tubuhnya menggelepar-gelepar, bilamana ujung lidah Benny mengait-ngait dan menusuk-nusuk liang vagina Aningsih yang terasa liat. Sentuhan- sentuhan lembut vagina yang berdenyut- denyut itu kian membakar nafsu birahi. Dan tiba-tiba Aningsih mengejang. “Bennn . . . !! Sssh ! Akkkhhhuuu tak kuaattsss, sayaugghh . . . !!” Aningsih merentak-rentak. “Ayoh, Mbak! Keluarkan! Aku sudah siap menerima!” ujar Benny yang terus juga dengan bersemangat menusuknusuk vagina Aningsih dengan ujung lidahnya. “Iyyaa, Bennnn! Akhhhu shhi . . . aukhh! Bennn! Ennnakkhhhh, meronta-ronta bagaikan kesetanan. Berbarengan dengan jeritannya yang menyayat, Aningsih mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan menekankan belakang kepala Benny sekuat-kuatnya, sehingga tanpa ampun separuh wajah Benny membenam sedalam-dalam ke bagian dalam kemaluan Aningsih. Bertepatan dengan itu pula, menyemprotlah cairan hangat dan licin. Kental. Menyiram lidah Benny yang terus menusuk-nusuk lobang vagina Aningsih. Benny yang memang sudah siap menerima, bagaikan kesetanan, menghirup habis cairan yang banyak sekali itu. Terus dijilat dan disapu bersih, masuk ke kerongkongannya. Sudah tentu Aningsih semakin berkelojotan, dikarenakan rasa nikmat yang luar biasa sekali. Sampai akhirnya tetes cairan yang terakhir. Tubuh perempuan itu melemas. Sedangkan Benny sendiri, merasakan pula nikmat luar biasa ketika mereguk cairan licin itu. Cairan kenikmatan Aningsih gurih sekali, lebih gurih dari pada segala yang batten gurih di dunia ini ! Benny tertunduk sambil menjilati sisa-sisa cipratan cairan Aningsih yang melekati pinggiran bibirnya. Aningsih melompat dan memeluk Benny kuat-kuat. “Oukh, Bennn! Terima kasih, sayangl Kau hebat! Jantan! Kau mampu membuat perempuan bahagia!” dan Aningsih menciumi bibir Benny bertubu-tubi. “Aku sampai kenyang menelan cairanmu. Banyak dan kental sekali! “ujar Benny. “Kau tidak jijik, Ben ?!” “Sama sekali tidak. Malah aku ketagihan. Kalau masih ada, aku masih mau meneguknya lagi!” Aningsih tambah gembira. Menciumi lagi bibir Benny bertubi-tubi. Kemudian didorongnya tubuh lelaki muda itu sehingga tergelimpang di atas kasur. “Kau sudah mengerjai punyaku! Sekarang, ganti aku yang mengerjai punyamu!” ujar Aningsih yang segera menyergap selangkangan Benny. “Auwww . . . !” Benny menjerit kaget. Namun Aningsih tidak menghiraukan. Batang bazoka Benny yang sudah benar-benar tegak mengacung, sejak tadi sangat menggoda. Aningsih sudah ingin sekali menciumi dan mengemoti. Dan sekarang, keinginan itupun kesampaian. Dengan mesranya Aningsih membelai-belai batang kemaluan itu yang bukan capital luar biasa besar dan panjangnya. Demikian pula dengan kepalanya yang berkilat dan membengkak. “Oukh, punyamu hebat sekali, Ben! besar dan panjang. Hmmhh . . . !!!” Aningsih terus juga membelai sambil sesekali menggenggam. Mulai dari pangkalnya yang dipenuhi rambut lebat sampai ke ujungnya yang berkilat dan membengkak, berbentuk topi baja. “Kamu suka pada punyaku, Mbak?!” tanya Benny sambil membiarkan Aningsih mengeser- geserkan zakarnya yang hebat itu ke pipi dan matanya. “Suka sekali, Ben! Tetapi ugh! Punyamu besar banget. Bengkak! Aku jadi negeri!” “Ngeri kenapa?!” “Ngeri kalau-kalau vaginaku sobek dan rusak!” Beny teatawa kecil. “Kau ini ada-ada saja. Kan semakin besar semakin enak!” “Iya! Tetapi punyamu ini besarnya nggak ketulungan!” ujar Aningsih. Benny tertawa lagi. Batang zakarnya berkejat-kejat digenggaman Aningsih. “Aku belum pernah merasakan batang zakar yang besar dan panjangnya kayak punyamu ini,” ujar Aningsih lagi. Benny merasakan geli dan nikmat bukan capital ketika Aningsih menciumi zakarnya yang semakin membengkak. Rasa geli yang nikmat dirasakan Benny. Tubuh lelaki itu kejang. Matanya membeliak-beliak. “Hmmh, Mbak! Sssh . . . !” mulutnya mulai merintih- rintih. Sambil menciumi, Aningsih memijit-mijit batang bazoka yang keras bagaikan tonggak itu. Menjadikan Aningsih gemes. Ujung lidah menciumi benda aduhai itu. Benda yang dapat memberikan kenikniatan luar biasa kepada wanita. “Ben! Perempuan-perempuan yang sudah kau kerjai, pasti pada ketagihan!” ujar Aningsih. Benny tidak menjawab. Dia mendacap-decap bagaikan orang kepedasan. Tengah meresapkan kenikmatan yang luaz biasa. Lezat! Alat basic dalam genggaman Aningsih itu semakin membengkak dan semakin memanjang lagi. Aningsih yang gemas bukan main, semakin tak tahan. Segera dia menempatkan dirinya sebaik-baiknya diantara kedua kaki Benny yang tertekuk. Kedua paha Benny terlentang selebar-lebarnya, sehingga tangan kanan Aningsih menggenggam alat basic yang kencang itu, tangan kirinya memhelal-belai rambut kemaluan Benny yang tebal dan ikal, tumhuh sanipai ke pusar. Merinding bulu-bulu roma Aningsih bilamana dia menciumi seluruh batang dan kepala kemaluan yang luar biasa itu. Bukan main. jari jari Aningsih hampir tidak muat menggenggam alat basic yang luar biasa itu. Memang inilah yang sangat disukai Aningsih. Dulu, dia pernah mendapatkan lelaki yang juga memiliki bazoka besar. Dan sejak itu, Ningsih sangat merindukannya. Dan baru sekarang, dia memperolehnya kembali setelah bertahun-tahun berselang. Aningsih yang semakin gemas segera menjulurkan lidahnya, menjilat batang kemaluan itu. Lalu dingangakannya mulutnya dan dimasukkannya bazoka luar biasa itu. Keruan saja Benny nienggelinjang kaget namun nikmat. “Ouw, Mbak! Hmmh . . . enak sekali, Mbak!” Benny merintih. Kedua kakinya terangkat naik dan menyepak-neyepak ke atas. Mendengar rintihan Benny, Aningsih jadi semakin bersemangat. Kepala bazoka yang berbentuk topi baja itu dikulumnya. Digigitnya. Tingkah Aningsih tidak ubahnya, bagaikan seseorang yang mendapat makanan lezat. Nikmat sekali. Sampai matanya terpejam-pejani. Air liurnya menetes-netes. Kepala yang berbentuk topi baja itu sangat hangat dan. kenyal. Demikian pula halnya dengan Benny. Kunyahan-kunyahan mulut Aningsih dirasakannya sangat nikmat dan merangsang nafsu birahinya. Benny merintih- rintih. Kedua kakinya semakin menyepak. Matanya mebeliak-beliak, sehingga hanya putihnya saja yang tampak. Aningsih kian bersemangat. Sekarang, bukan hanya kepalanya saja yang dikulum dan digigiti Aningsih, tetapi seluruh batang kemaluan yang perkasa itu. Semntara itu, kedua telapak tangan Aningsih tidak tinggal diam. Sementara mulutnya mengulum, tangannya menarik-narik rambut kemaluan Benny yang luar biasa lebarnya. Dan tangan yang satu lagi mempermainkan sepasang biji milik Benny. “Enak, Ben . . . ?!” tanya Aningsih ditengah- tengah kesibukannya. “Enak sekali Mbak. Ennaaakkkh !!!” Benny berusaha menyahuti tersendat-sendat. Kedua tangannya. Aningsih terus juga melalap senjata yang luar biasa itu. Demikianlah secara beraturan, kepala dan batang zakar Benny keluar masuk mulut Aningsih. Pada waktu masuk, mulut Aningsih sampai kempot. Sedangkan pada waktu keluar sampai monyong. Semakin absolutist semakin cepat. Tubuh Benny gemetar. Jemarinya mencengkeram rambut Aningsih kuat-kuat. Rintihan . . . rintihannya semakin menghebat, sementara Aningsih kian gencar menyerbu menggebu-gebu. Akhirnya, Benny menjerit histeris. Pantatnya diangkatnya tinggi-tuiggi, sedangkan kedua telapak tangannya menekan belakang kepala Aningsih kuat-kuat. Dan batang serta kepala kemaluan Benny pun membenam sedalam- dalamnya, merojok sampai ke tenggorokan Aningsih. Dengan bersemangat sekali, tangan Aningsih mengocok pangkal kemaluan Benny dengan cepat dan mesra. Dan tanpa ampun lagi : “Crroott! Crrrroooottss! Crrottttsssss . . . ! !!” menyemprotlah cairan kental dari dalam batang kemaluan yang berdenyut-denyut dengan dahsyatnya. Daya semprotnya luar biasa sekali. Tubuh Benny menggigil. Aningsih tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan nikmat sekali disedotnya batang kemaluan Benny. Maka tanpa ampun, bergumpal-gumpal cairan kenil:matan Benny, tertumpah semuanya ke dalam mulut dan tenggorokan Aningsih. Mata Aningsih sampai terpejam- pejam, menelan seluruhnya sampai tetes terakhir. Benny setengah mengeluh memejamkan matanya. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. “Oukh, Mbak. Kau sungguh hebat!” bisiknya. Aningsih tertawa sambil menyeka mulutnya yang sebagian masih dibasahi sisa-sisa cairan kental. “Bagaimana, Ben?! Enak?!” tanya Aningsih. Benny menarik lengan Aningsih, sehingga perempuan itu jatuh ke dalam dekapannya. “ Enak sekali, Mbak. Oukh, enak sekali! Kaupun mampu membahagiakan lelaki!” ujar Benny. Aningsih tersenyum mendengar pujian Benny, “Aku haus, Ben. Tolong ambilkan aku minum di meja itu, dong!” ujar Aningsih. Benny melompat turun dari tempat tidur, menuangkan Fanta merah dari botol besar ke gelas sampai penuh. Kemudian memberikannya pada Aningsih. Aningsih meneguknya dengan lahap. Haus sekali rupanya. Sampai habis tiga perempat gelas. Kemudian Benny menuangkan lagi ke gelas sampai penuh, kemudian meneguknya sampai habis. “Benny . . . !” mata Aningsih berkejap-kejap. Punyaku sudah ingin sekali dimasuki punyamu. ” Dan Aningsih melirik ke selangkangan Benny. Senjatanya masih tegang mengacung. “Kita istirahat dulu sebentar ya, sayang!” bisik Benny sambil membelai rambut Aningsih.

3 komentar: