4.06.2011

memuaskan birahi lina

Suatu saat, begitu Lina selesai
mengantar suaminya ke
bandara karena suaminya ada
urusan bisnis ke luar negeri,
maka diapun menelepon aku. ”Mia, aku sudah siap nich……” katanya
”Siap apaan Lin?” tanyaku pura-pura.
”Ala, pura-pura lu, itu tuh, suamiku baru saja aku anter ke
bandara karena ada urusan
bisnis di Jepang selama tiga
minggu, asik kaannn… Jadi rencana kita untuk ber-three
in one dengan temen suami lu,
siapa namanya tuh, Edo ya?
bisa kita laksanakan” jawabnya. ”OK boss! Ntar aku telepon dulu ke Rado” kataku. Singkat cerita, pagi itu juga
aku telepon ke Edo supaya
datang ke rumah Lina, aku
sudah menunggu disana. Aku
tidak peduli bagaimana caranya
dia minta ijin meninggalkan kantor, yang penting segera
datang. Habis penting bener sih. Setelah aku menyerahkan
anakku ke pembantu supaya
diajak ke rumah mertua,
segera aku cabut ke rumah
Lina di bilangan Tebet. Dalam
perjalanan, sambil menyetir mobil aku sudah membayangkan
bagaimana nanti aku akan
memainkan perananku dalam
persetubuhan secara three in
one tersebut. Jangan dikira aku
tidak berdebar-debar menghadapi situasi ini, sebab
inilah pertama kali aku akan
melakukan persetubuhan
secara three in one dengan
satu orang laki-laki dan dua
orang wanita yang terus terang baru pernah aku
saksikan di film-film biru atau
baca baca di cyber porn. Ketika aku tiba disana, mobil
langsung kumasukkan ke garasi
yang terbuka. Ternyata Edo
belum datang. ”Kebetulan! Ada waktu untuk menenangkan diri” batinku dalam hati. Ternyata Lina juga idem
denganku. Malah kelihatan
sekali bahwa tangannya
gemetar waktu dia menyiapkan
minuman. ”Kamu kok kelihatan nerveous begitu sih Lin?” tanyaku pura- pura bersikap tenang.
”Jangan ngeledek, aku kan baru mau kali ini berselingkuh
dengan laki-laki lain” jawabnya sambil pura-pura melotot. Lina sebenarnya wanita yang
agak pemalu, walaupun kalau
menceritakan soal keinginannya
bersetubuh dengan laki-laki
yang mempunyai kontol besar,
malah jadi malu-maluin. Tubuhnya tinggi semampai, lebih
tinggi dari rata rata wanita
Indonesia. Kulitnya mulus,
berwarna kuning langsat,
wajahnya bernuansa oriental
meskipun bukan keturunan Chinese. Tapi herannya kenapa
susunya besar ya? Biasanya
tipe-tipe seperti itu kan
susunya cenderung kecil.
Ukuran bra-nya 34C. Aku tahu
sebab pernah beberapa kali belanja pakaian dalam bersama
dia. Pentilnya berwarna
kecoklatan sedangkan rambut-
rambut jembutnya tidak begitu
lebat, aku tahu itu sebab
pernah mandi bersama setelah berenang di kolam renang
belakang rumahnya. Perutnya
rata bener, pantaslah, karena
belum punya anak walaupun
sudah tiga tahun menikah,
sedangkan pahanya, alamak, betul-betul paha peragawati,
mulus sekali! Belum lagi matanya
yang redup sayu membuat laki-
laki yang ditatapnya merasa
seperti dipanggil untuk
mendekat. Pantaslah kalau orang sekaya Aryo (nama
suaminya) begitu bernafsu
untuk memperistrinya. Tapi
nafsu seksnya itu lho, betul-
betul luar biasa. Aku pernah
diajak bermain lesbian bersamanya sehabis mandi
bersama tempo hari. Tapi aku
tolak secara halus, karena aku
lebih suka bersetubuh dengan
laki-laki, dan diapun mengerti.
Apalagi setelah aku ceritain nikmatnya kontol Ki Alugoro
dan kontol Edo. Singkat cerita, setengah jam
kemudian datanglah Edo sang
Arjuna. Buru-buru aku bukain
sendiri pintu pagar halaman
walaupun sebenarnya pintu itu
bisa dibuka jarak jauh dengan remote. Lina memang sengaja
meliburkan pembantu-pembantu
dan satpamnya hari itu. ”Hello, yang..” sapanya mesra. ”Ayo, masuk” jawabku sambil senyum.
”Sudah ditunggu lho..” bisikku sambil bergelayut di bahunya. Sampai di ruang tamu tak
kudapati Lina. ”Kemana dia?” pikirku dalam hati. Setelah menyuruh Edo duduk,
buru-buru aku ke ruang dalam.
Ternyata Lina sedang berganti
pakaian. Dengan rok mini
berwarna putih dipadu T-shirt
tank top ketat berwarna biru gelap menampilkan sosok
tubuhnya yang bak bidadari.
Susunya yang besar terlihat
bergelayutan seakan akan mau
meloncat dari dalam T-shirt
nya. Rupanya dia sengaja tidak memakai bra, sehingga pentil
susunya kelihatan jelas
tercetak di depan mata.
Pahanya yang mulus
terpampang hampir tiga
perempatnya. Apalagi dengan berlian yang ditindikkan di
pusarnya sebentar-sebentar
berkilauan bila dia
menggerakkan tubuhnya. ”Excellent…!” pekikku lirih. ”Sssstttt……” jawabnya lirih. ”Ayo…” ajaknya sambil wajahnya kelihatan agak kemerah-
merahan.
”Sebentar, aku juga mau melepas bra-ku dulu” sahutku sambil buru-buru membuka baju
dan melepas bra. Setelah itu kupakai bajuku lagi.
Sengaja kubuka dua kancing
atasnya sehingga belahan dada
dan sepertiga susuku
terpampang seperti memanggil
tangan iseng laki-laki untuk membelainya. Sampai di ruang tamu aku
melihat Edo terbengong-
bengong melihat penampilan
kami berdua. ”Perkenalkan, ini temanku Lina” kataku sambil menarik tangan
Lina untuk bersalaman dengan
Edo.
”Rado…” jawab Edo menimpali Lama mereka saling berjabat
tangan dan saling memandang.
Aku hampir-hampir cemburu
dibuatnya. ”Ayo” kataku membuyarkan angan-angan mereka. Kamipun pergi ke belakang
rumah. Di tepi kolam renang
ternyata sudah dipersiapkan
semacam kasur angin, seperti
yang diiklankan di TV itu. Di
sampingnya ada meja taman yang di atasnya terletak buah-
buahan, sebotol wine dan
beberapa botol soft drink.
Tentu saja ada juga tiga buah
gelas kristal yang cantik. Tapi aku tidak tertarik dengan
semua itu, karena setiba di tepi
kolam renang, buru-buru aku
melepaskan seluruh pakaianku
dan dengan tubuh telanjang
bulat aku menceburkan diri ke air.
Rupanya inisiatifku diikuti oleh
mereka berdua. Kuperhatikan kontol Edo
ternyata sudah ngaceng,
walaupun belum seratus persen. Melihat kontol yang luar biasa
itu, mata Lina terbelalak dan
mulutnya setengah terbuka.
Tidak begitu lama kami berada
di air. Kemudian kami bertiga
duduk di kasur tersebut. Kini aku yang mengambil inisiatif.
Kudorong tubuh Edo supaya
telentang dan kutarik tangan
Lina untuk memegang kontol
Rado. Sedang aku sendiri
cepat-cepat memperamainkan susu Lina dari belakang sambil
menciumi belakang telinga dan
kuduknya. Diperlakukan demikian, apalagi
sambil memegangi kontol Edo
yang sudah tambah mengeras,
nafsu Lina rupanya cepat naik.
Nafasnya agak memburu
sedang mukanya sudah mulai memerah.
Melihat itu Edo mulai beraksi
mengambil alih permainan.
Sambil merebahkan tubuh Lina
di kasur, aku disuruh
menghisap-hisap susu Lina, sedang dia mulai menciumi paha
sebelah dalam Lina, terus ke
atas, sampai ke belahan
tempiknya yang sudah mulai
merekah. Sedang tangannya
yang kiri mulai menggerayangi tempikku yang juga sudah mulai
gatal. Sampai di belahan tempik
Lina, tanpa basa-basi mulut Edo
langsung menyerbu dan
menjilat-jilat sambil menghisap-
hisap itil Lina. Kami perlakukan demikian, Lina
langsung menggelinjang hebat.
Mulutnya mulai mendesis,
”Ouccggghhh……” Edo sadar bahwa dia harus
memuaskan dua orang cewek
secara bergantian dan berkali-
kali, maka tanpa membuang
waktu lebih lama dia sodorkan
kontolnya yang sudah ngaceng penuh itu ke belahan tempik
Lina. Seperti kepadaku dulu dia
mulai dengan menggosok-
gosokkan ujung kontolnya ke
kontol kecil dan bibir tempik
Lina. Tentu saja hal tersebut
membuat Lina bergelinjang
tidak keruan. Tapi berbeda
denganku dulu, Lina langsung
memegang kontol Edo yang luar
biasa besar itu untuk dimasukkan ke dalam
tempiknya. Tentu saja susah
sekali, karena Lina belum punya
anak, sehingga tempiknya
relative masih sama sempitnya
seperti waktu perawan dulu, apalagi tempik itu hanya
pernah dilalui oleh kontol
suaminya yang kecil dan
pendek. Maka, sambil mulutku masih
menghisap-hisap susu Lina, jari-
jari tanganku menolong
membuka bibir tempik Lina
supaya bisa dilalui kontol Edo. ”Uuuccchhh… mmmhhhh” rintih Lina menahan rasa nikmat. Tak berapa lama kontol Rado
berhasil juga menyeruak ke
dalam tempik Lina, walaupun
baru sebatas kepala dan
separuh batangnya saja. Itupun sudah membuat Lina
menjerit tertahan merasakan
nikmat yang belum pernah ia
rasakan.
”Oouugghhhh… Mmmiiaaa…… Eeeddoooo… tteerruuussss… oouughhh… eennnaakkkk…” celotehnya. Mukanya jadi merah membara,
matanya membeliak-beliak ke
atas, pahanya makin dilebarkan
dan pinggulnya diangkat-
angkat ke atas. Walaupun mulutku masih terus
menghisap-hisap susu Lina,
akupun sempat berbisik
padanya, ”Goyang Lin, goyang pantatmu supaya kontol Edo
cepat bisa masuk seluruhnya” Diapun menggoyang-goyangkan
pantatnya diringi dengan
hunjaman keras kontol Edo,
maka blesss… amblaslah semua batang kontol Edo. ”Aaarrggccchhhh……” pekik Lina. ”Mmiaa…… kkontttoll Eeeddooo…… mmmhhhhh… eennaakkk sseekkalliii…” lanjutnya dengan penuh birahi. Setelah itu Edo makin giat
menghunjam-hunjamkan kontol
besarnya ke dalam tempik Lina
yang makin menggelinjang-
gelinjang dengan hebatnya.
Tubuhnya yang sudah basah dengan air itu makin basah lagi
bercampur dengan keringat,
sedang selangkangan dan
rambut-rambut jembutnya
yang keriting itu makin basah
dengan cairan nafsu yang mulai keluar dari lubang tempiknya.
Matanya makin membeliak-
beliak sambil mulutnya yang
mungil itu ternganga-nganga. Akupun mulai berinisiatif lagi,
lidahku mulai menjilati muka
Lina, bibirnya, turun ke leher,
dan akhirnya ke susunya yang
besar itu lagi. Tentu saja hal tersebut
membuat tubuh Lina yang
telanjang itu serasa melayang
di awan yang berarak di atas
kami. Kurang dari setengah jam
Lina kami perlakukan demikian ketika tiba-tiba tangan Lina
yang kanan mencengkeram
erat-erat tanganku, sedang
tangannya yang kiri memeluk
erat-erat pinggang Edo. Sambil
mengangkat pinggulnya tinggi- tinggi orgasmenya meledak
diriringi teriakannya,
”Aaaarrrggghhh… Mmiia… Eeeddoooo… oooccchhhhhhh……” Linapun terkapar sambil
tangannya memegangi kontol
Edo yang tentu saja belum
orgasme. Rupanya seperti
diriku, Linapun rupanya tidak
ingin cepat-cepat kehilangan kontol itu dari tempiknya. Aku terpana sekali menyaksikan
adegan yang belum pernah
kusaksikan tersebut.
Tangankupun tanpa sadar telah
mengelus-elus tempik dan itilku
sendiri. Tetapi sadar akan tugasnya
untuk memuaskan diriku juga,
maka dengan halus Edo
melepaskan pegangan tangan
Lina pada kontolnya dan
mengacungkannya padaku. Tentu saja hal itu kusambut
dengan bahagia, kupegang
kontol itu kuusap-usap, kucium
kemudian kuhisap-hisap sambil
kutelan sisa lendir kawin dari
tempik Lina yang menempel hingga bersih. Akupun ingin
memamerkan kepiawaianku
bersetubuh kepada Lina, maka
setelah menghisap hisap kontol
Edo, kusuruh dia tidur
telentang sehingga kontolnya mencuat ke atas. Akupun
segera menungganginya sambil
berusaha memasukkan kontol
Edo ke dalam tempikku.
Karena sudah berpengalaman
berkali-kali, maka tidak sesulit dulu kontol Edo masuk ke dalam
tempikku dan bleessss… masuklah kontol Edo
seluruhnya. Aku tergelinjang ketika ujung
kontol Edo menyentuh bagian
paling sensitive di dalam
tempikku, tapi kuusahakan
bagian itu tidak tersentuh dulu,
supaya persetubuhan ini berjalan agak lama. Beberapa
saat menaik turunkan pantatku
di atas tubuh Edo. Ternyata Lina memperhatikan
adegan ini, dan dengan mata
terbelalak sambil mulutnya
terbuka, dia bangkit duduk
untuk menyaksikannya lebih
dekat. ”Hisap pentil susu Edo, Lin..” suruhku pada Lina. Tentu saja Lina menurut, dan
sambil menungging dihisap-
hisapnya pentil susu Edo. Kesempatan ini rupanya
dimanfaatkan oleh Edo. Sambil
merem melek keenakan, jari
tangannya mulai
mempermainkan itil Lina,
dipencet-pencetnya, digosok- gosoknya, sehingga Lina
menggelinjang-gelinjang
keenakan. Melihat muka Lina
makin memerah, Rado meminta
persetujuanku untuk
menuntaskan hasrat birahi Lina lagi. ”Percayalah, aku tidak akan sampai orgasme…” bisiknya. Akupun mengangguk setuju
karena kepuasan sahabatku
Lina termasuk penting buatku. Kemudian dengan lembut susu
Lina didorong sehingga dia
rebah telentang. Edopun
memulai lagi aksinya. Disedot-
sedotnya itil Lina sambil dijilat-
jilatnya dengan rakus. Aku makin terpana melihat
wajah Lina yang mengeluarkan
ekspresi yang sulit untuk
kuceritakan. Pokoknya ekspresi
untuk meminta segera
disetubuhi. Mungkin Edo sadar bahwa masih
ada tugas selanjutnya yaitu
menyetubuhiku, maka tanpa
buang-buang waktu segera
diacungkannya kontolnya ke
mulut Lina. Agak kikuk Lina menerima
pemberian itu, tetapi karena
tadi dia melihatku, mengelus-
elus, menjilat-jilat dan
menyedot-nyedot kontol Edo,
maka diapun berusaha berbuat demikian.
Hampir tidak masuk kontol Edo
ke dalam mulut Lina yang mungil
itu. Setelah beberapa saat dihisap-
hisap (dengan agak kikuk tentu
saja, karena Lina belum pernah
berbuat itu kepada suaminya)
kemudian Edopun mencabut
kontolnya dari mulut Lina dan langsung mengarahkannya ke
tengah lubang tempik Lina dan… ”Bleeesss………” Karena tempik Lina sudah banjir
oleh lendir birahinya, hanya
dengan sedikit kesulitan kontol
Edo sudah amblas seluruhnya
ke dalam lubang tempik Lina
dan… ”Ooouuuggghhhhh……” pekik Lina lirih. ”Teerruuuusssss…… Ddooooo… ggennjjot llaggiiii……” pinta Lina sambil merem melek
dan wajahnya memerah padam.
Tanpa membuang-buang waktu
Edopun langsung memompakan
kontol besarnya secara cepat
dan bertubi-tubi di dalam lubang kawin Lina. ”Ughhhh… ughhhhh… crot… crot… crot…” terdengar rintihan nikmat Lina dipadu dengan
bunyi kontol Edo keluar masuk
tempik Lina yang makin banjir
oleh lendir kawinnya itu.
Rupanya Edo ingin
persetubuhan ini cepat selesai maka makin kencanglah
kontolnya menyodok-nyodok
lubang tempik Lina.
Rupanya karena termasuk
golongan pemula dalam blantika
perselingkuhan maupun tehnologi persetubuhan, Lina
masih bersumbu pendek dan
cepat mencapai puncak birahi
karena belum setengah jam,
tiba-tiba tubuh Lina mengejang,
pinggulnya diangkat tinggi- tinggi sembari tangannya
memeluk erat pinggang Edo
maka…… ”Eddooooo… akkuuu…… kkkeelluuuaarrrrrrr…” teriaknya melepaskan puncak
birahinya. Dan seiring dengan itu
tangannya memeluk makin erat
tubuh Edo seolah tidak mau
lepas lagi. Beberapa saat
kemudian barulah dia
tergeletak dengan lemas di bawah tubuh telanjang Edo.
Edopun tersenyum sambil melirik
ke arahku dan tangannya
mengelus-elus rambut Lina. Rupanya Linapun keenakan
diperlakukan demikian. Hanya, karena waktu Rado
tidak banyak karena harus
pulang ke kantor sebelum jam
kerja usai, maka dengan lembut
ditinggalkannya Lina yang
telentang manja dan langsung menghampiriku. Akupun tahu diri, segera
kutelentangkan diriku, kubuka
pahaku lebar-lebar sambil
kutekuk lututku ke atas. Tanpa basa basi Edo langsung
menyerbu diriku dan
memasukkan kontolnya ke
lubang tempikku. Jago benar
dia, walaupun kelihatan
tergesa-gesa, tetapi tusukan kontolnya bisa persis di
tengah-tengah lubang
tempikku. Tentu saja aku tergelinjang
menerima tusukan yang tiba-
tiba itu. Dan dengan nafsu yang
membara karena sempat
tertunda tadi, maka kulayani
Edo dengan sepenuh keahlianku. Kuempot-empot kontol Edo
dengan tempikku, dan
kugoyang-goyang dengan
hebat, sehingga walaupun
memakan waktu agak lama dan
mengeluarkan suara crot… crot… crot sekitar setengah jam lebih, maka Edo dan akupun
secara bersamaan melayang ke
langit biru yang diselimuti
kenikmatan dan… ”Ugghhhhh.. ughhh… Ddoo…… akkuu… mmmau… kkeeluuaarrrrr… ogcchhhhh……” rintihku keenakan. ”Aakkuuu… jjuggaa… kkeelluuuaaarrrrrr…… Mmiiaaa…… aayyoo… bbaarrreeennggggggg…” teriaknya.
”Ukkhhh… acchhhhh… mmhhhhh…” erangnya kemudian dan…… ”Sshhyyuuuurrrrrrrr……” seperti semburan lumpur hangat
lapindo di Sidoarjo sana
tempikku dan kontol Edo secara
bersama-sama menyemburkan
cairan kenikmatan banyak
sekali. Dan seperti biasanya, kontol
Edo tetap aku jepit erat-erat
dengan tempikku sehingga
seluruh peju Edo habis tertelan
ke dalam lubang tempikku.
Tubuhku dan tubuh Edo berpelukan erat sekali sambil
bibir kami berpagutan. Tentu
saja hal semacam ini belum
pernah dialami dan dilihat oleh
Lina. Dengan keadaan
terengah-engah aku lirik Lina duduk bersimpuh dekat sekali di
samping kami sambil mulutnya
ternganga, wajahnya merona
merah sambil tanpa sadar
tangannya memijit-mijit itilnya
sendiri. Rupanya dia amat terangsang dan ikut terhanyut
dengan pemandangan di depan
matanya itu. Maka dengan tersenyum lembut
kuraih tangannya, kuelus-elus
kubisikkan kata-kata, ”Lain kali kamu bisa mengalami yang
seperti ini, yaitu orgasme
bareng dengan Edo, tapi kali ini
Edo harus segera pulang ke
kantor Lin……” Edopun kulirik dan dia
mengangguk lembut. Maka
acara selanjutnya kamipun
menceburkan diri ke kolam
renang, bercanda sebentar dan
kemudian mandi bertiga di kamar mandi mewah Lina.
Akhirnya karena masih ogah
berpakaian, kami mengantar
Edo bertelanjang bulat sampai
di ruang tamu saja, sampai
mobil Edo meninggalkan pekarangan dan kukunci dari
ruang tamu sebab seperti
kuceritakan dimuka, pintu
pagar rumah Lina kan bisa
dibuka dan ditutup dengan
remote. Tidak seperti rumahku yang harus didorong dengan
tenaga manusia. ”Mia…” kata Lina tiba-tiba sambil merangkul bahuku dari
belakang. Kurasakan kedua pentil Lina
menempel di punggungku. ”Hmmh…” sahutku. ”Terus terang aku tidak tahu harus berterima kasih
bagaimana kepadamu.
Persetubuhan seperti tadi sama
sekali tidak pernah
kubayangkan. Bermimpipun
tidak pernah. Aku tidak pernah membayangkan kok
persetubuhan bisa
mendatangkan kenikmatan
yang begitu hebat dalam diriku.
Rasanya pengin deh Edo aku
tahan berhari-hari disini. Atau bagaimana kalau dia kita
jadikan gigolo kita? Biar aku
yang menanggung dananya……” katanya mulai ngawur.
”Hush…” sahutku pura-pura melotot.
”Dia itu bukan orang miskin, dan dia mau berbuat begini
hanya dengan kita saja kok.
Aku jamin. Dia hanya ingin
memberi kepuasan kepada aku
dan temen-temen yang aku
referensikan” sahutku sambil membusungkan dada dan
berjalan ke arah teras rumah.
”Mia..!” seru Lina mengagetkanku.
”Kamu masih telanjang! Kok keluar rumah” lanjutnya. Aku kaget dan buru-buru balik
kanan sambil kedua tanganku
secara reflek menutupi susu
dan tempikku. ”Asem” umpatku dalam bahasa Jawa.
”Sampai nggak sadar aku, untung kau ingatkan” lanjutku. Tapi sebenarnya di teras
rumahpun tidak akan ada yang
melihat karena rumah Lina
dikelilingi pagar tinggi yang
tertutup rapat, sedang
satpamnyapun kan dia liburkan hari ini. Oleh sebab itu masih dengan
telanjang, aku balik lagi ke
teras dan duduk-duduk disana.
Tak lama kemudian Linapun
menyusul duduk di kursi
sebelahku, juga masih dalam keadaan telanjang.
”Perasaan, kalau dalam keadaan telanjang di tempat
terbuka, asyik juga ya? Kaya di
pantai nudis di Australia itu lho!
Cuman kalau terlalu umum
seperti itu malah jadi nggak
seru, karena banyak kakek- kakek dan nenek-nenek yang
ikutan telanjang, jadi malah
nggak asyik dilihatnya. Tapi
udahlah, jadi ngelantur” anganku. Setelah melanjutkan obrolan-
obrolan saru sebentar, akupun
bangkit dan pamitan pada Lina. ”Baiklah Lin, aku pulang dulu, sampai lain kali, seperti yang
kujanjikan tadi, kamu akan
kuajari supaya bisa orgasme
bareng dengan Edo” ucapku. ”Kapan, tuh…” tanyanya sambil matanya memancarkan sinar
seakan tidak sabar. Kukatakan secepatnya. Dan
setelah berpakaian, kukecup
bibir Lina dengan mesra. Kiss
bye dan kustarter mobilku,
pulang. Oh ya, Lina masih telanjang
bulat juga waktu mengantarku
sampai di garasi. Persis sampai di rumah,
teleponku berdering, ternyata
dari Lina yang menceritakan
bahwa dari tadi dia masih hilir
mudik di ruang tamu sambil
masih bertelanjang bulat. Dia merindukan kehadiran Edo
kembali secepatnya. ”Wah gawat nih” pikirku. Maka timbulah ide kreatifku
yaitu bagaimana kalau
kuadakan acara bukan three in
one tetapi four in one, jadi dua
cowok dan dua cewek supaya
tidak ada waktu nganggur bagi ceweknya. Lagipula kita bisa
bertukar-tukar pasangan.
Asyikkan? Ide itu cepat cepat
kusampaikan kepada Edo. Setelah berpikir sesaat dia
katakan setuju, karena sebagai
cowok megapolitan kan jamak
saja kalau dia punya teman
dengan hobby yang sama. ”Panjang dan besarnya hampir sama dengan aku. Hanya lebih
pendek sekitar satu
sentimeter. Tapi urat-uratnya
lebih besar. Kebetulah wajahnya
juga bernuansa oriental. Jadi
pasti Lina suka. Oh ya, batangnya agak miring ke
kanan kalau sedang ngaceng” ujarnya sambil tertawa kecil. Singkat cerita, hal itu aku
sampaikan kepada Lina, dan
diapun menyambut dengan
antusias. Bahkan dia punya
usul, kalau acaranya nanti
dilaksanakan di villanya saja di daerah Puncak

13 komentar:

  1. Balasan