7.31.2010

selingkuh dengan kakak ipar

Sore itu aku baru saja mengantar istriku Ine piknik ke Bali bareng-bareng murid SMU dan teman-temannya sesama guru. Aku antar sampai bis berangkat menuju Bali diiringi lambaian tangan istriku tercinta. Sebelum berangkat istriku berpesan agar segera mengembalikan uang yang dipinjamnya kepada istri kakaknya, yang berarti adalah kakak iparku juga yang bernama arti . Walaupun cuaca agak mendung, tetapi kuantarkan juga uang itu kepada kakak ipar istriku. Sampai di sana ternyata sepi, nggak ada orang dan pintu rumah tertutup rapat. Ku ketuk pintu rumah " Dok..dok..dok....kula nuwun", sapaku. Nggak ada jawaban. Berulang-ulang kuketuk pintu juga nggak ada jawaban. Akhirnya iseng-iseng pegangan pintu ku dorong, ternyata pintu nggak terkunci. Teledor benar kakak iparku ini, begitu pikirku. Aku masuk ke kamar tamu, sepi. Sayup-sayup ku dengar suara gemercik air di kamar mandi belakang. Segera aku ke sana dan menyapa kakak iparku. "Mbak.. mbak" sapaku agak keras, karena suara air mandipun keras juga. "Siapa itu?" jawab dari dalam. "Aku... Unang" jawabku. "Ada apa.." tanyanya lagi. "Ini mbak aku disuruh Ine mengembalikan uang yang dipinjam kemarin" jawabku. "Ya..tunggu sebentar" jawab mbak Arti dari dalam kamar mandi. Akhirnya aku duduk-duduk di depan TV sambil menonton acaranya. Lima menit berlalu, sepuluh menit, limabelas menit sudah aku menunggu, ternyata mbak Arti belum juga kelar acara mandinya. Iseng-iseng aku bangkit menuju kamar mandi dan mencoba melihat dari luar apa yang sedang dilakukan kakak iparku ini. Waah....ada lubang kunci, itu cukup buatku untuk mengintipnya. Deg..plasss...jantungku seakan rontok melihat pemandangan yang belum pernah aku saksikan. Kulihat kakak iparku ini sedang menggosok-gosok badannya dengan sabun mandi sambil duduk di pinggir kamar mandi dengan kaki mengangkang. Terlihat jelas di mataku, karena posisi duduknya menghadap ke pintu kamar mandi. Wajahnya terlihat memerah, matanya tertutup rapat dan bibirnya menganga sambil sesekali mengeluarkan erangan halus, " ahhhhgg...ahhhhhg...ssshh". Kulihat payudaranya ranum banget, walaupun agak kecil, putingnya merah dan menegang, indah sekali. Pandangan ku alihkan ke bawah. Srettt.. darahku mendidih seketika, karena vagina-nya terlihat sangat bagus, seperti mawar merah yang sedang merekah, yang sekelilingnya dihiasi dengan bulu-bulu halus membentuk lingkaran di sekitar mulut luar dan sekitar perut. Mbak Arti terus menggosok payudara dan vaginanya sambil pantatnya bergoyang- goyang. Diantara keluarga kami, mbak Arti ini mempunyai pantat yang paling bagus, padat dan besar, tetapi serasi dengan bentuk tubuhnya. Ohhh. Rupanya kakak iparku ini sedang masturbasi. Aku tak begitu saja menyia-nyiakan kesempatan ini. Kuteruskan kegiatanku mengintip. Pantat mbak Arti semakin bergetar keras ketika jarinya menyentuh klitoris yang menyembul di antara vagina-nya. Digosoknya vagina-nya dengan gerakan memutar seirama dengan goyangan pantatnya. Mungkin sudah klimaks, karena kulihat mbak Arti mengejang dan meluruskan kakinya sambil menciumi ketiaknya sendiri. Khawatir ketahuan aku segera berjingkat- jingkat menuju depan TV dan kembali duduk, Pura-pura membaca Koran yang ada di depanku. Jegleggg...pintu kamar mandi dibuka. Kakak iparku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan daster tipis tembus pandang, hingga membuat tenggorokanku kering menahan gejolak seksku yang kian meninggi. Tetapi aku pura-pura acuh dan bertanya "Mas Dwi pergi ke mana to mbak" tanyaku basa- basi. "Masmu baru penataran di Ungaran selama 3 hari, tadi siang baru berangkat, mbak mengantar sampai terminal" sahutnya. Wahhh. .duda ketemu janda nich, pikirku. "Ini mbak titipan dari Ine, mohon maaf karena baru sekarang baru bisa ngembali’in" kusampaikan permintaan maaf istriku sambil memberikan amplop berisi uang "Ah..nggak apa-apa" sahutnya. Baru berbincang-bincang sebentar, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seakan- akan mengguyur bumi ini. "Waduh..hujan" kataku memecah suara hujan yang jatuh di atas genting. "Ya berteduh dulu to di sini, nggak usah sungkan, wong di rumah saudara aja. Sebentar mbak buat’in minuman hangat" sahutnya. Mbak Arti berjalan ke dapur. Cleguk. ..aku menelan ludah karena kulihat pantat mbak Arti bergoyang ke kanan dan ke kiri, seakan-akan menantang setiap lelaki untuk menjamahnya. Kulihat terus setiap gerakan tubuhnya dengan seksama. Darahku seakan berhenti ketika kakak iparku ini mengaduk minuman di gelas. Seluruh tubuhnya bergoyang, payudaranya, perutnya, pantatnya pokoknya syuur banget. Tiba-tiba dia lari dari dapur menuju ke arahku dan memelukku erat-erat sambil berteriak, "Dik Unang, kakak jijik lihat kecoa di dekat gelas itu" katanya sambil menunjuk ke arah dapur. "Tenang mbak, tenang, ayo kita bunuh kecoa itu" sahutku sambil tetap memeluk kakak iparku itu dan berjalan menuju dapur. Dengan sebuah gagang sapu, kubunuh kecoa itu dan kubuang ditempat sampah, tetapi anehnya kegiatan itu kulakukan dengan tetap berpelukan dengan kakak iparku itu. Jantungku mulai berdetak sembarangan. Nafsu mulai naik ke ubun-ubun. Tiba-tiba kedua mata kami beradu pandang, lama sekali sambil nafas kami terengah-engah. Sementara hujan berubah menjadi rintik-rintik, mendukung suasana menjadi dingin dan sepi. Nggak sadar, entah siapa yang memulai, bibir kami saling berpagut, hangat. Kulumat bibir kakak iparku itu dengan penuh nafsu. Sekali- sekali kugigit bibirnya dan kumainkan lidahku di atas langit-langit mulutnya. Nafsu seks sudah mengasai kami berdua. Aku tahu itu tidak boleh, tetapi kami nggak kuasa untuk menghentikannya. Kami semakin tenggelam dalam birahi. Kini leher jenjang kakak iparku menjadi sasaranku berikutnya. Kuciumi dan kujilat sepuasnya. Hampir saja aku mencipok lehernya itu, kalau tidak ditepis oleh kakak iparku itu dan memprotes, "Jangan dik..nanti membekas", larangnya. Kemudian kujilat kuping belakang mbak Arti sambil kubisikkan sesuatu. Ia mengangguk. Sambil masih tetap berdiri di pinggir wastafel dapur kulepas pakaiannya satu per satu. Hingga kini tak selembar benangpun melilit tubuhnya. Kupandangi tubuh indah itu sampai lama, hingga lidahku tahu- tahu sudah memainkan puting payudara yang sudah memerah tegang itu. Pelan-pelan kaki kanannya ku angkat dan kuletakkan di pinggir wastafel itu. Jemarikupun refleks memainkan bulu-bulu halus di sekitar vaginanya. Kudengar kakak iparku melenguh-lenguh tanda terangsang. "Ah.... ouhgh..... sshh.... nikmat.. terus....". Dengan penuh nafsu serangan kuteruskan dengan lidah di bibir vaginanya yang sudah basah oleh cairan hangat itu. Kujilat–jilat mesra sambil sesekali menggigit bagian dalam bibir vagina itu. Rupanya seranganku membuahkan hasil. Mbak Arti bergetar keras dan mengajakku pindah ke sofa. Kami duduk berpangkuan sambil terus melakukan kontak seksual. Kini giliran Mbak Arti yang gantian menyerangku. Dicopotinya semua pakaianku. Ia sempat terbelalak begitu melihat penisku. Entah apa yang dirasakannya. Yang jelas ia langsung melahap penisku sampai habis. Diisap-isap, dikocok-kocok dan dijilati sampai puas. Gantian aku yang menggelinjang hebat, karena terus terang aku sudah terangsang ketika aku mengintip kakak iparku ini mandi. "Mmmmhhhh....srup....srup.." penisku dihisap-hisap sampai badanku merinding semua. Ia memandang mataku dan memberi tanda agar pindah ke kamar tidurnya. Kami berbaring dengan ambil posisi 69. Kini didepan wajahku terpampang vagina yang menganga dan memerah. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, langsung ku serang vagina itu hingga Mbak Arti menggelinjang penuh kenikmatan. Tetapi sebaliknya Mbak Artipun semakin gencar menyerang peny-ku dengan tak kalah hebatnya. Tiba-tiba ia bangun dan mendorongku hingga jatuh telentang. Hujan belum juga berhenti. Dalam hati kunyayikan lagu anak-anak yang kugubah syairnya, TIK.. TIK...TIK BUNYI HUJAN DI ATAS RANJANG. Ia mulai ambil posisi membelakangiku dan membimbing peny-ku masuk ke dalam lobang vagina yang sudah becek itu disertai gerakan naik turun. Pelan-pelan....agak cepat....sampai seperti kesetanan ia terus menggoyang pantatnya naik turun. Kuimbangi gerakannya dengan mendorong peny-ku maju mundur. Mulutnya menceracau tak karuan. Dengan masih melakukan gerakan tadi kuremas-remas payudara yang kini semakin mengeras itu. Hingga akhirnya ia menjerit kecil "Ohhhh..aku sudah nggak tahan lagi dik....Ahsh..". Segera kuambil posisi konvensional. Kutelentangkan ia, pahanya ku buka lebar-lebar dan tumitnya kuletakkan di bahuku. Kuterobos lubang menganga itu dengan rudalku, dan kuserang habis-habisan. Permainan ini kami lakukan hampir 1 jam, sampai kakak iparku berdesah hebat sambil berkata "Ahg....ough..sh... Aku mau keluar dik. Ohhhg". Kutambah kecepatan permainanku karena akupun sudah mendekati detik-detik orgasme. Kurasakan darah mengalir dari seluruh tubuh ke peny-ku Kugoyang, kugoyang dan kugoyang terus, sampai masing- masing kami mencapai puncak kenikmatan dengan kusemburkan mani ku ke dalam vagina kakak iparku itu sambil memeluknya erat-erat. Sepuluh menit kami berpagut mesra. Hingga akhirnya kami kenakan pakaian kami kembali. " Mbakkk.." panggilku. "Mmhhhhh.." jawabnya manja. "Aku sebetulnya sudah mengintip waktu mbak tadi mandi" godaku. "Ahhhh..kamu nakal.." sungutnya sambil mencubit lenganku keras-keras. Senda gurau berakhir sampai aku berpamitan pulang dan kebetulan hujan sudah agak reda. Sebelum pulang kucium mesra pipi dan bibirnya sambil kubisikkan di telinganya " Mbak adalah kakak iparku tersayang".

2 komentar: