7.31.2010

yuni costumerku-1

Saat ini aku hampir menjadi seorang insinyur elektro, sekarang sedang menunggu wisuda. Sambil menunggu wisuda, aku dan beberapa temanku membuka toko komputer. Kejadian ini terjadi pada bulan Agustus 2000. Pagi itu sekitar jam 10 pagi, aku sedang membuat proposal penawaran untuk pemda Wonogiri. Sebuah Vitara putih tiba-tiba masuk di halaman kantorku, seorang cewek WNI keturunan berumur sekitar 20 tahun, tinggi sekitar 165 cm mengenakan kaos ketat warna biru muda keluar dari dalam mobil. “Selamat pagi Mas”, katanya. “Selamat pagi, silakan duduk.., Ada yang dapat saya bantu?”, sahutku sambil bersalaman dan menyiapkan sebuah kursi yang masih berada di pojok ruangan. Terasa dingin dan sangat lembut ketika aku meremas tangannya. Singkat cerita dia setuju membeli seperangkat komputer pentium II/550 multimedia dan sebuah bjc-2000 yang saat itu seharga 6 ,6 juta. “Ini saya baru bawa 5 juta, sisanya besok bisa Mas?”, tanya dia. “Oh.., nggak apa-apa”, jawabku, sebenarnya dengan uang muka seratus ribu pun aku juga bersedia. “Maaf, Mbak namanya siapa, ini untuk mengisi kwitansinya”, tanyaku. “Yuni, lengkapnya Yuni *****”, sahutnya. Dia juga memberikan alamat dan nomor HP-nya. Saat itu juga setelah kuselesaikan pembuatan penawaran, aku langsung merakit komputer yang dia pesan. Dalam tiga jam aku selesai merakit plus menginstall program yang diperlukan. Satu jam kemudian setelah aku selesai makan siang yang sudah agak sore, aku iseng-iseng telepon Yuni. “Mbak.. ini komputer yang Mbak pesan udah selesai, sewaktu-waktu dapat diambil”, kataku membuka pembicaraan. “Aduh cepat sekali Mas, ini saya juga baru ngambil uang di bank, oh ya Mas.. sekalian modemnya ya.. nambah berapa?”, tanyanya. “Kalau internal Motorola 140 ribu Mbak”, jawabku. “Ya udah yang itu saja, tetapi tolong Mas yang pasangkan ke rumah saya, masalahnya saya nggak bisa masang sediri..”, pintanya. “Ya.. kalo begitu nanti jam 7 malam saya akan datang ke rumah Mbak”, Sahutku. Selesai mandi aku membayangkan wajah Yuni, mirip dengan salah satu bintang film mandarin tapi siapa aku tidak tahu namanya. Berwajah oval, rambut sebahu berhigh light merah, kulitnya yang putih bersih benar-benar sangat manis. Selesai berdandan dan sedikit minyak wangi, aku menyalakan Suzuki Carretaku dan meluncur ke perumahan Solo Baru, sebuah kompleks perumahan yang cukup elite di kota Solo. Setelah sepuluh menit berkeliling kompleks, akhirnya aku menemukan alamatnya. Terlihat Vitara putih di dalam garasi yang tidak tertutup, setelah yakin alamatnya benar maka aku pencet bel yang berada di balik pagar besi yang terkunci. Seorang perempuan setengah baya keluar dan membuka pintu pagar sambil berkata, “Mas yang mau ngantar komputer ya, silakan masuk dulu Mas, Mbak Yuni baru mandi” . Aku tidak langsung masuk tetapi mengambil barang-barang pesanan Yuni dan aku letakkan di teras depan. “Barang-barangnya disuruh langsung dipasang ke kamar Mbak Yuni Mas”, perempuan itu menyusulku ke mobil saat aku mengambil barang terakhir, yaitu keyboard, mouse dan nota penjualan. “Ini kamar Mbak Yuni”, kata perempuan itu sambil mengantarkanku menuju ke suatu ruangan berukuran 4 x 4 meter. Tidak terlalu luas tetapi cukup tertata rapi dan barang-barang yang lumayan mewah menghiasi kamar. Bau parfum ruangan berjenis apple samar-samar tercium hidungku. Tanpa membuang waktu aku merakit komputer di meja yang telah dia siapkan sebelumnya. Saat merakit instalasi printer, Yuni masuk kamar, tercium harum bau sabun mandi. Terlihat Yuni hanya mengenakan daster warna kuning tanpa ritsluiting dan tanpa lengan baju ( model you can see). Lengannya yang putih mulus dan bentuk badannya yang ramping mengigatkanku pada Novi (cinta pertama) tetapi badannya lebih gedean Novi sedikit. Sesaat aku terdiam memandangnya, dia hanya tersenyum saja memperlihatkan giginya yang putih dan berjajar rapi. “Udah selesai Mas?”, tanyanya membuatku sedikit kaget. “Oh.. sebentar lagi Mbak, ini baru pasang printer”, jawabku. “Mas, jangan panggil aku Mbak, panggil saja Yuni”, katanya. “Kamu kuliah di mana?”, tanyaku. “Di Akademi **** (edited), semester 3″, jawabnya. “Stop kontaknya mana Yun?”, tanyaku. “Itu di bawah meja”, jawabnya. “Kok sepi, di mana ortumu?”, tanyaku. “Aku di sini tinggal bersama kakakku, Papi sama Mami tinggal di Surabaya, kakakku sudah tiga hari di Semarang ikut seminar untuk syarat mengambil dokter spesialis”, jelasnya. “O.. kakakmu dokter ya.., terus perempuan itu pembantumu?”, aku terus bertanya. “Iya, dia membantu dari pagi sampai jam 7 malem setelah itu pulang ke rumahnya kira- kira 300 meter dari sini”, jelasnya. “Nah.. udah siap silakan kalo mau coba”, kataku setelah layar monitor memperlihatkan logo WIN 98. “Oh ya.. Mas mau minum apa?”, tanyanya setelah menunggu logo WIN 98 berubah menjadi gambar Titanic. “Ah.. apa aja mau kok”, kataku sambil tersenyum. Dia berjalan keluar kamar, saat dia berjalan itu samar-samar kulihat pantatnya yang tidak terlalu besar tetapi terlihat padat dan kenyal. Dia kembali dengan membawa segelas es jeruk dan meletakkan di samping ranjangnya yang memang terdapat meja kecil dan sebuah telpon. “Wah sayang aku belum ngedaftar ke ****net “, katanya. “Oh.. kamu mau nyoba pakai internet, kalo gitu untuk sementara kamu boleh pakai punyaku”, kataku sambil aku mulai mengisi user name dan password. “Eh.. Mas.. kalo mau lihat gambar-gambar artis Indonesia yang telanjang alamatnya di mana sich”, katanya tanpa malu-malu. Selanjutnya kuberi tahu alamat-alamat situs porno sambil aku memperlihatkannya. Terlihat Yuni Shara sedang bercinta dengan seseorang, melihat adegan tersebut matanya yang agak sipit dan bening terus melotot sambil menelan ludah, aku hanya tersenyum menyaksikan ekspresi wajahnya yang lucu sangat manis terpaku memandangi adegan itu. “Kalo kamu mau baca cerita-cerita erotis, ada di sini..”, kataku sambil mengetik www. 17 tahun.com (sekarang sudah pindah ke alamat 17 tahun2. com) dan mulai masuk ke salah satu cerita erotis, dengan seksama dia membacanya dan aku juga membaca tentunya. Saat dia tengah membaca, dia mendekatkan kursinya di sampingku sambil sesekali dia meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang lain. Dan batang kemaluanku pun mulai bereaksi dan.. aduh, kelihatan sekali kalau batang kemaluanku sedang tegang. Dia melirik ke bawah, aku berusaha menyembunyikannya, dan dia hanya menarik nafas dalam-dalam sambil tersenyum kecil. Setelah beberapa saat berselancar keliling dunia, kuputuskan hubungan ke internet. “Mas.. ini udah bisa dipakai nonton film?”, tanyanya. “Iya, kamu punya CD (compact disk) film nggak”, tanyaku sambil aku berusaha menempatkan batang kemaluanku agar berada pada posisi vertikal setelah terangsang dengan cerita tadi. “Sebentar, aku carikan dulu ke kamar kakak”, jawabnya sambil keluar kamar. “Ada sich, tapi.. adanya ini punya kakak”, dia berkata sambil memperlihatkan VCD semi porno dengan judul Kama Sutra versi Barat. “Ya.. nggak apa-apa kan cuma nyoba, tapi pembantumu tadi di mana?”, tanyaku sambil melongok ke arah pintu. “Oo.. dia udah pulang tadi waktu aku selesai mandi dan masuk ke sini”, jawabnya. Terlihat adegan yang sangat romantis pada layar monitor, tidak seperti film-film porno lain, adegan dalam film ini sangat lembut dan romantis. Sebenarnya aku sudah terbiasa menonton film-film seperti ini, tetapi jika ditemani makhluk manis seperti ini jantungku berdebar sangat kencang. Sesekali kulirik dia yang sedang menyaksikan adegan tersebut. Terlihat sesekali dia membasahi bibirnya yang berwarna merah delima dengan lidahnya. Ingin sekali sebenarnya aku mencium bibirnya. Baru sekali aku merasakan bersetubuh dengan pacar pertamaku, dan keinginan itu saat ini sangat menggebu. Kulihat Yuni mulai sering menggerakkan kakinya naik turun. Aku hanya menarik nafas panjang dan kumundurkan kursiku sehingga berada sedikit di belakang Yuni. Karena aku sudah tidak tahan lagi, dengan agak takut kusenggolkan kakiku dengan kakinya. Tidak kuduga sama sekali dia hanya diam, tanpa menungu lebih lama lagi kakiku mulai naik turun di betisnya. Karena dia sepertinya tidak keberatan kuperlakukan seperti itu, kuberanikan tanganku untuk memegang tangannya dan dia juga menyambutnya dengan meremas tanganku. Akupun mulai lebih berani, kuraba dadanya yang tidak begitu besar tetapi sangat kencang dan padat terasa cukup keras. Saat kuraba payudaranya terlihat dia terpejam sepertinya sedang menikmati apa yang sedang kulakukan. Tangannya yang putih bersih mulai merayap menuju pahaku, aku semakin terangsang hebat. Sementara tanganku masih rajin meraba payudaranya, dan dia terpejam, perlahan kucium bibirnya, kuhisap dengan lembut dan lidahku pun mulai masuk di antara gigi-giginya yang putih berjarar rapi. Masih berasa pasta gigi saat lidahku melumat bibirnya. Selanjutnya dia pun membalas dengan memainkan lidahnya ke dalam mulutku. Lembut sekali bibir dan lidahnya. Setelah beberapa saat aku menikmati bibirnya yang mungil, ciumanku mulai berjalan menuju ke telinganya. Saat aku mungulum telinganya, dia mendesah dan mengangkat kepalanya, sepertinya dia kegelian. Kulepaskan ciumanku dan aku mulai mencumbu lehernya yang putih dan berbau harum sabun mandi, sementara tanganku masih terus meraba payudaranya dengan lembut. Perlahan ciumanku aku turunkan di dada bagian atas dan tanganku mulai melepaskan tali yang mengantung pada lengannya. Setelah aku berhasil melepaskan tali dari dasternya, maka daster bagian atasnya mulai menurun dengan sendirinya. Terlihat bukit yang masih tertutup BH berwarna krem. Saat aku mulai mencium payudaranya bagian atas, perlahan-lahan dia berdiri dan spontan aku menarik ciumanku, agak takut aku waktu itu, kupikir dia akan marah. Tetapi setelah dia berdiri tegak, semua dasternya merosot ke bawah dan tampak dia berdiri setengah telanjang hanya menggenakan BH dan celana dalam berwarna putih. Sepertinya dia tidak marah malah dia tersenyum kecil, saat itu aku berpikir mungkin dia penganut aliran seks bebas. Ah masa bodoh, yang penting keinginanku dapat kesampaian dan aku tidak memaksanya. Perlahan aku mulai berdiri di hadapannya, kupandangi tubuhnya yang setengah telanjang dengan seksama. Indah sekali tubuhnya, dari wajah sampai ujung kaki semuanya berbalut kulit berwarna putih bersih khas kulit WNI keturunan. Perlahan kudekati dia dan kucium bibirnya untuk yang kesekian kalinya. Senang sekali aku menikmati bibirnya yang mungil dan berwarna merah delima. Sambil aku melumat bibirnya kupeluk dia sampai tubuh kami saling menyentuh. Tanganku yang berada di punggungnya mulai berusaha melepaskan BH, tapi sulit bagiku, aku tidak berhasil karena BH yang dia pakai lain dengan yang pernah dipakai Novi. Sepertinya dia tahu kalau aku kesulitan membuka BH-nya, dan akhirnya dia sendiri yang membuka. Setelah BH-nya terlepas terlihat dua buah bukit yang berwarna putih dengan puting berwarna coklat muda menggantung dengan kencang. Kubopong dia ke tempat tidur dan kurebahkan dia ke sisi tempat tidur. Saat itu dia berada di atas tempat tidur dan aku berada di lantai. Perlahan kuraba payudara bagian kiri dengan tangan kananku, sementara lidahku mulai memainkan puting susunya yang sebelah kanan sambil sesekali kuhisap putingnya. Kulihat dia terpejam dan menggigit bibir bagian bawah sementara kedua tangannya menarik-narik rambutnya sendiri, sepertinya dia sangat menikmati permainan ini. Saat kedua tangannya memegang rambutnya, terlihat ketiaknya yang sangat bersih tanpa ditumbuhi bulu karena mungkin sering dicukur. Selanjutnya hisapanku mulai bergeser sedikit demi sedikit ke sisi payudaranya, dan kulanjutkan jilatan dan hisapanku ke atas menuju ketiaknya dan tangan kananku berganti memainkan payudara bagian kanan. Saat lidahku menyapu ketiaknya dia sedikit berteriak, “Akhh..”. Aku lanjutkan dengan menghisapnya dan dia semakin mendesah keras dan kedua kakinya merapat saling menindih. Terlihat dia menegang untuk beberapa saat, kemudian mulai melemas sepertinya dia telah mencapai orgasme untuk yang pertama. Terlihat titik-titik keringat muncul di dahinya, aku melepaskan gigitanku dan dia duduk sambil tangannya menyentuh rambutku dan dia meraba wajahku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya membersihkan keringat yang ada di dahinya. Setelah dia meraba bagian wajahku, jari-jarinya menyentuh bibirku dan dengan ibu jarinya dia mengusap- usap bibirku dan berusaha memasukkan ibu jarinya ke dalam mulutku. Aku tidak menolak, kukulum ibu jarinya dengan lembut, dan jarinya yang lain mulai menyusul masuk ke dalam mulutku, kukulum satu persatu jari-jarinya yang putih. Perlahan dia menarik tangannya dan mulai membuka kacing-kancing kemejaku. Perlu pembaca ketahui jika aku berada di tempat customer aku selalu mengenakan kemeja dan sepatu, tetapi sepatu dan kaus kakiku telah kulepas di depan rumahnya. Setelah semua kancing kemejaku terlepas, aku berdiri dan membuka kemejaku. Selajutnya kubuka sendiri ikat pinggang dan celana panjangku sampai aku hanya memakai CD yang telah menjadi ketat karena terdesak oleh batang kemaluanku yang menegang keras. Selanjutnya kubuka CD-ku sendiri sehingga kini aku telah telanjang bulat. Terlihat batang kemaluanku tegak berdiri dengan arah agak vertikal, perlahan kudekatkan batang kemaluanku ke wajahnya dengan harapan dia akan menghisapnya, tapi sepertinya dia tidak mengerti maksudku, karena dia hanya memandang saja. Selanjutnya dengan tangan kananku memegang batang kemaluan dan tangan kiriku membelai rambutnya, aku usap-usapkan batang kemaluanku ke wajahnya, lagi-lagi dia belum mengerti keinginanku, dia hanya memejamkan mata. Karena sudah tidak sabar kuusapkan kepala batang kemaluanku ke bibirnya dan aku berusaha memasukkan batang kemaluanku dan akhirnya dia mau membuka mulutnya. Perlahan kudorong batang kemaluanku agar masuk lebih dalam lagi, terasa lidahnya yang lembut menyentuh kepala batang kemaluanku. Sepertinya dia mulai mengerti apa yang kuinginkan, selanjutnya lidahnya mulai menyapu kulit batang kemaluanku dari pangkal sampai ujung berulang-ulang sambil sesekali mengulumnya, terasa sangat lembut, hangat dan sangat nikmat sampai-sampai merinding seluruh tubuhku. Sepertinya dia menyukai batang kemaluanku karena lebih dari lima menit dia menikmati batang kemaluanku sampai kakiku kelelahan berdiri, akhirnya aku mengambil posisi 69 dengan posisi miring. Sementara dia mengulum dan menjilati batang kemaluanku, aku mulai membuka CD-nya yang sedikit basah. Terlihat rambut-rambut halus menutupi kemaluannya sebelah atas. Aku terus menurunkan CD-nya sampai terlepas, selanjutnya kucium dan jilati paha bagian dalamnya sampai mendekati liang kewanitaannya. Lain dengan Novi, bibir liang kewanitaan Yuni berwarna cenderung merah hati. Aku sapukan lidahku ke lubang kenikmatannya yang telah mengeluarkan cairan bening, terasa agak gurih. Saat kubuka liang kewanitaannya dengan tangan kiriku, terlihat liang kewanitaannya sangat sempit dan sepertinya dia masih perawan karena bentuk bagian dalamnya persis seperti kepunyaan Novi. Mengetahui dia masih perawan, aku semakin semangat menikmati liang kewanitaannya. Kurenggangkan kedua pahanya, kusapukan lidahku dari anusnya dan sedikit demi sedikit naik menuju lubang kemaluannya dan akhirnya sampai pada klitorisnya. Kujilati dan kuhisap klitorisnya berulang-ulang, kuturunkan lidahku ke lubang senggamanya dan cairan bening mulai mengalir dari liang kewanitaannya. Kemudian kuhisap dalam-dalam cairan yang keluar tersebut dan kukeluarkan di daerah klitorisnya sambil terus kujilati dan kuhisap klitorisnya. Setelah puas menikmati klitorisnya, kini lidahku mulai menyapu liang kewanitaannya, dan lidahku kumasukkan ke dalam liang kewanitaannya yang sempit tersebut. Sampai akhirnya dia melepaskan hisapan pada batang kemaluanku dan untuk yang kedua kalinya dia menegang dan perlahan keluar cairan bening dari dalam liang kewanitaannya yang selanjutnya kuhisap dan kutelan sampai habis. Aku melihat Yuni yang kelelahan, aku bangkit dan duduk di samping tubuhnya yang telah lemas dan karena aku belum mencapai orgasme, kuambil posisi di atasnya dan dengan tangan kananku, kubimbing batang kemaluanku agar dapat masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat kugesek-gesekkan batang kemaluanku pada liang kewanitaannya, tangan kanannya menahan agar batang kemaluanku berhenti. “ Tolong Mas jangan dimasukin, aku takut, aku belum pernah melakukannya”, ucapnya dengan lirih. Mendengar itu aku jadi iba juga, kutarik batang kemaluanku dari permukaan liang kewanitaannya, dan aku kembali duduk di sampingnya dengan tanganku mengocok batang kemaluanku yang masih tegang. “Aku kulum saja ya Mas, boleh nggak?”, tanyanya sambil tangan kanannya meraih batang kemaluanku. Aku hanya mengangguk, selanjutnya dia bangkit dari tidurnya dan duduk berhadapan denganku, dia tersenyum dan mencium bibirku sejenak. Kemudian dia menunduk dan mulai mendekati batang kemaluanku, dia sapukan lidahnya dari kepala batang kemaluan sampai pada pangkalnya berulang ulang. Aku hanya merintih menahan nikmat, aku heran juga kenapa dia nggak capek ya.. Yuni terus memainkan lidahnya sambil sesekali mengulum kepala batang kemaluanku. Kuakui kulumannya sangat nikmat karena batang kemaluanku masuk cukup jauh ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat aku menahannya, akhirnya “Akhh.. aku mau keluar”, ucapku sambil meremas payudaranya dan maniku keluar memenuhi mulutnya dan sebagian membasahi wajahnya yang manis. Setelah menelan maniku yang ada di dalam mulutnya, dia melanjutkan mengulum dan membersihkan batang kemaluanku yang basah dengan lidahnya. Sampai batang kemaluanku melemas pun dia masih terus mengulumnya sampai batang kemaluanku terasa geli. Karena kegelian, kusuruh dia melepaskan kulumannya. Kemudian kuangkat dagunya hingga wajahnya berhadapan denganku, masih terlihat sisa-sisa maniku di sisi kiri bibirnya yang mungil menetes ke dagunya. Kuusap maniku yang membasahi hidung dan pipinya dengan jariku dan akan kuusapkan pada CD-nya, tetapi dia ingin menelannya, sehingga jari-jariku dilumatnya hingga mani yang kupegang habis. Sepertinya dia sangat menyukai maniku, enak kali ya.. Sepertinya dia kelelahan, dia berbaring telentang menatapku dengan tanpa selembar kainpun menutupi tubuhnya. Kupandangi lagi tubuhnya yang telanjang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terlihat titik-titik keringat keluar dari sekujur tubuhnya, terlihat semakin indah. Aku menarik nafas panjang dan kucium bibirnya yang mungil, masih terasa sisa-sisa maniku di bibirnya, terasa gurih tetapi lebih kental dari maninya. Saat kulihat sudah pukul 10.30 malam, aku segera berpakaian, mematikan komputer dan pamit pulang. Dengan malas diapun bangkit dan mengenakan dasternya tanpa memakai CD dan BH. “Mas uang kekurangannya belum aku siapkan, mau tunggu sebentar?”, katanya. “Ah.. besok saja udah malam nih takut ditanya macam-macam sama satpam”, kataku. Sebenarnya maksudku adalah agar aku dapat datang lagi dan main dengannya seperti yang baru saja kami lakukan. Untuk yang terakhir kalinya pada malam itu kucium bibirnya. Aku start mobilku dan meninggalkan rumahnya. Dalam perjalanan aku heran juga, bagaimana dia bisa mempertahankan keperawanannya jika dia sudah bermain sejauh itu. Dalam hati aku yakin jika suatu saat nanti dia akan mennyerahkan keperawanannya padaku. Semenjak kejadian malam itu aku selalu teringat dengannya. Hampir aku tidak percaya jika aku pernah bercumbu dengan seorang WNI keturunan yang berwajah sangat manis. Tetapi karena kesibukanku ikut tender, aku jadi belum sempat menghubungi Yuni. Kejadian ini berlangsung empat hari setelah malam yang indah itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar